BloKA!
LOGIN: Username: Password:

Depan | Khaverim | Blog simulacra76 | Profil simulacra76
 
Simulacrum: Are We Real?
an unexamined life is not worth living

Mel's Simulacra

Mel's Simulacra

Beritahu Teman Anda tentang Blog ini

Blog ini telah dibuka sebanyak 1190 kali

Rata-rata pengunjung blog ini memberi nilai:


Beri nilai blog ini:
bintang

(5 terbaik dan 1 terburuk)

Posting Terbaru:

  • Harimau Sumatera Yang Rindu Kebebasan
  • Tell me guys: Are We REal?
  • Mengapa Kita Takut?
  • Jampi-jampi Jumud Jarkasih
  • untitled nih
  • "Dia Yang Mencari, Akan Ditemukan"
  • To: chandragayatri@vu.nl
  • Komentar Terbaru:

  • jhon di Mengapa Kita Takut?
  • Blog Sahabat-sahabat simulacra76:

    jeff_wauran
    Jeffry M Wauran

    Elly
    Elly Taha

    mi_anokhi
    mi_anokhi

    Harimau Sumatera Yang Rindu Kebebasan

    Setelah lama menanti, akhirnya pelepasan 2 ekor harimau sumatera (yg bernama Pangeran dan Agam) ke habitatnya di alam liar, tepatnya di hutan Taman Nasional Bukit Barisan, terjadi sudah. Sudah hampir seminggu ini saya melihat iklannya di metro tv. Dan selama itu saya menanti momen yang buat saya cukup mendebarkan. Ya, mendebarkan. Saya suka sekali dengan harimau. Walaupun saya tidak suka kucing, tapi saya jatuh cinta dengan harimau. Dengan keindahan lorengnya yang berwibawa itu. Dengan wajahnya, dengan tatapan matanya yang dalam. Dan dengan auman suara beratnya itu. Menurut para peneliti, Harimau Sumatera ini adalah jenis harimau terakhir yang Indonesia miliki. Setelah punahnya jenis Harimau Bali yang disusul oleh Harimau Jawa di tahun 2000an, maka jika Harimau Sumatera ini tdk berkembang biak juga dalam waktu dekat ini, dikhawatirkan jenis ini akan turut punah di tahun 2010an. Betapa sedihnya. Generasi kita nanti tak akan pernah melihat kegagahan si belang, yang banyak menginspirasi orang-orang tua kita dulu untuk menjadi pemimpin yang berani dan bijaksana. Tak akan ada lagi fabel-fabel dng tokoh harimau di dalamnya.

    Maka, kemarin pagi (22/07) itu saya meluangkan waktu sebentar sebelum berangkat ke kantor, untuk menyaksikan peristiwa pelepasan harimau itu. Dari kotak televisi saya melihat padang rumput hijau yang luas sekali. Sepertinya padang rumput ini bagian dari bibir hutan, karena di ujung sana sudah terlihat rapatnya pepohonan tinggi yang lebat. Kandang 2 ekor harimau itu sdh diletakan di salah ...baca selengkapnya

    29 Jul 2008 (09:11 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 144 kali |

    Tell me guys: Are We REal?

    "If real is what you can feel, smell, taste and see, then 'real' is simply signals interpreted by your brain." - Morpheus in The Matrix

    Bena r kata tokoh Yuda dalam novel terbaru Ayu Utami, Bilangan Fu, "Orang-orang yang menghadap televisi itu juga sungguh-sungguh bermuka sedih jika diperintahkan untuk berduka oleh televisi. Ketika remaja aku telah mencoba menonton televisi, baik dari depan maupun dari belakang. Kedua-duanya menampakkkan adegan kebodohan yang sama mengerikan. Maka aku berhenti menonton tivi." Saya sih tidak sampai sperti si Yuda itu; berhenti menonton tivi. Tapi kejengahan dan kegelisahan saya terhadap acara-acara tv lokal kita dan juga terhadap para pemirsanya yg selalu mengapresiasi acara-acara jelek itu kurang lebihnya sama dengan tokoh Yuda. Televisi telah merepresentasikan realitas yg sebenarnya tak ada, false image, hyper-reality. Orang sedih atau gembira pada sesuatu yg tidak seharusnya. Lihat saja waktu semua channel tivi mengabarkan berita kematian mantan presiden soeharto. kita semua mendadak merasa "kenal akrab" dengan sang mantan penguasa itu sehingga ikut-ikutan merasa sedih dan kehilangan. Lihat juga bgm reaksi berbondong-bondongnya masyarakat kita yg datang berdesakan di depan jalan cendana karena ingin melihat jenazah soeharto. Bahkan saya juga ...baca selengkapnya

    29 Jul 2008 (09:04 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 150 kali |

    Mengapa Kita Takut?

    Saya heran sekali melihat seorang yang sudah saya anggap sebagai pakde saya sendiri, Pakde Hary, dengan santainya menyalakan lampu neon di teras rumahnya hanya dengan membuka isolasi ujung kabel lampu tersebut, sehingga munculah serabut kawat tembaga di dalamnya, lalu menyambungkan serabut kawat itu ke kabel yang lainnya, yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri tengah tercolok menempel pada panel listrik di dinding rumahnya. Setelah saya perhatikan, kabel yang tengah terhubung dengan arus listrik itu ternyata tengah menghidupkan sebuah lampu di taman. Jadi, lampu neon di teras itu semacam 'dicangkokkan' ke kabel lampu taman tadi, sehingga ia ikut teraliri listrik dan menyala. Terus terang saya takjub. Takjub, karena Pakde Hary melakukannya tanpa memutuskan arus listrik yang mengalir di kabel lampu taman tadi. Takjub, karena beliau tidak kesetrum. Dan takjub, karena beliau berani sekali melakukan hal itu tanpa takut tersengat arus lisrik. Terus terang lagi, saya sih tak berani melakukan itu. Saya takut... ...baca selengkapnya

    15 Jul 2008 (13:38 WIB) | Komentar (1) | Dibaca sebanyak 95 kali |

    Jampi-jampi Jumud Jarkasih

    Bagi yg tdk dengan sungguh-sungguh memperhatikan, nampaknya tdk perlu ada pembedaan yg khusus antara cara beragama orang-orang primitif dengan agama sukunya (animisme, totemisme) dan orang modern dengan agama (mono) teisme nya. Saya termasuk yg berusaha untuk kritis, tdk saja lewat pengamatan, tapi juga dlm hal penerapannya dlm kehidupan saya sehari-hari. Alasannya sederhana saja. Bagi saya, agama dan modernitas tak perlu saling berlawanan. Saya bisa dengan sekaligus menjadi relijius dan modern. Menjadi relijius dan modern, tak bisa dielakkan lagi. Apalagi di Indonesia ini, yg masyarakatnya masih senang (baca: mudah ditipu dan dimainkan psikologisnya) dengan simbol-simbol keagamaan.


    Bagaimana sih beragama yg modern itu? Untk menjawab ini kita harus tahu dulu seperti apa perilaku orang primitif dalam beragama, dalam berkeyakinan. Singkat saja, ciri khas yg paling kentara dlm masy primitif dalam hal beragama terletak pada persoalan magi. Apa itu magi? Harun Hadiwijono mengatakan, Magi bisa berarti sihir tapi dlm arti luas dpt diartikan sebagai ...baca selengkapnya

    15 Jul 2008 (13:30 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 130 kali |

    untitled nih

    "So I find this law at work: When I want to do good, evil is right there with me. For in my inner being I delight in God's law, but I see another law at work in the members of my body, waging war against the law of my mind and making me a prisoner of the law of sin at work within my members. What a wretched man I am! Who will rescue me from this body of death? Thanks be to God - through Jesus Christ our lord! So then, I myself in my mind am a slave to God's law, but in the sinful nature a slave to the law of sin...." St. Paul - ...baca selengkapnya

    05 Feb 2008 (11:31 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 89 kali |

    "Dia Yang Mencari, Akan Ditemukan"

    "Ia yang tak mencicipi, tak mengetahui" - J. Rumi - Tiba-tiba aku teringat dengan salah satu dosenku ... lanjutan tulisan ini hanya bisa dibaca oleh anggota situs ini
    ...baca selengkapnya

    04 Feb 2008 (11:25 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 76 kali |

    To: chandragayatri@vu.nl

    Salam,

    Ahoy sahabat… aaakh betapa senangnya diriku mendengar kembali kabar tentangmu. Setelah… adakah mungkin sekitar satu semester ini kita tak saling menyapa dan bertukar pikiran. Aku tahu engkau pasti sibuk sekali dengan studimu di sana. Aku juga senang ketika mengetahui bahwa kau pun memahami kesibukanku di sini. Dan, saling memahami adalah salah satu sendi yg penting dlm menopang sebuah hubungan, bukan? Tentunya kau masih ingat bagaimana naik turunnya hubungan kita. Kadang menggelikan seperti anak-anak kecil. Namun tak sedikit pula di antaranya yg kita selesaikan secara dewasa dan baik-baik. Termasuk juga soal affair kita berdua yah, hehehehe. Tapi, justru dalam ketegangan itulah hubungan kita bisa bertahan hingga saat ini.

    Gayatri sahabatku, rupanya kau belum terlalu banyak berubah ya. Masih saja suka merumitkan perkara-perkara hidup yang sesungguhnya ringkas-sederhana, diangkat ke dalam taraf berpikir kritis-reflektif, sambil berharap agar 'masalah yg sebenarnya' lebih dpt dikenali ketimbang sekedar mengenal fenomena atau gejalanya saja. Rupanya fenomenologi-nya Edmund Husserl -dengan metode bracketting-nya- yg kita dpt di kelas filsafat dulu, sangat mempengaruhi ...baca selengkapnya

    04 Feb 2008 (11:19 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 138 kali |

    Tema ini didisain oleh Cazp



    Tema Tampilan: Cazp
    Seluruh tulisan dan komentar dalam Blog simulacra76 ini menjadi tanggung jawab dari simulacra76
    bukan tanggung jawab Kemah Abraham dan tidak selalu mewakili pemikiran dan teologi/doktrin Kemah Abraham

    bloKA! © 2007 Kemah Abraham
    created by oyr79