|

Mel's Simulacra
Beritahu Teman Anda tentang Blog ini
Blog ini telah dibuka sebanyak 1190 kali
Rata-rata pengunjung blog ini memberi nilai:
    
Posting Terbaru:
Harimau Sumatera Yang Rindu KebebasanTell me guys: Are We REal?Mengapa Kita Takut?Jampi-jampi Jumud Jarkasihuntitled nih"Dia Yang Mencari, Akan Ditemukan"To: chandragayatri@vu.nl
Komentar Terbaru:
jhon di Mengapa Kita Takut?
Blog Sahabat-sahabat simulacra76:

Jeffry M Wauran

Elly Taha

mi_anokhi
|
Harimau Sumatera Yang Rindu Kebebasan
Setelah lama menanti,
akhirnya pelepasan 2 ekor
harimau sumatera (yg
bernama Pangeran dan
Agam) ke habitatnya di
alam liar, tepatnya di
hutan Taman Nasional
Bukit Barisan, terjadi
sudah. Sudah hampir
seminggu ini saya melihat
iklannya di metro tv. Dan
selama itu saya menanti
momen yang buat saya
cukup mendebarkan. Ya,
mendebarkan. Saya suka
sekali dengan harimau.
Walaupun saya tidak suka
kucing, tapi saya jatuh
cinta dengan harimau.
Dengan keindahan
lorengnya yang berwibawa
itu. Dengan wajahnya,
dengan tatapan matanya
yang dalam. Dan dengan
auman suara beratnya itu.
Menurut para peneliti,
Harimau Sumatera ini
adalah jenis harimau
terakhir yang Indonesia
miliki. Setelah punahnya
jenis Harimau Bali yang
disusul oleh Harimau Jawa
di tahun 2000an, maka
jika Harimau Sumatera ini
tdk berkembang biak juga
dalam waktu dekat ini,
dikhawatirkan jenis ini
akan turut punah di tahun
2010an. Betapa sedihnya.
Generasi kita nanti tak
akan pernah melihat
kegagahan si belang, yang
banyak menginspirasi
orang-orang tua kita dulu
untuk menjadi pemimpin
yang berani dan
bijaksana. Tak akan ada
lagi fabel-fabel dng
tokoh harimau di
dalamnya.
Maka, kemarin pagi
(22/07) itu saya
meluangkan waktu sebentar
sebelum berangkat ke
kantor, untuk menyaksikan
peristiwa pelepasan
harimau itu. Dari kotak
televisi saya melihat
padang rumput hijau yang
luas sekali. Sepertinya
padang rumput ini bagian
dari bibir hutan, karena
di ujung sana sudah
terlihat rapatnya
pepohonan tinggi yang
lebat. Kandang 2 ekor
harimau itu sdh diletakan
di salah ...baca selengkapnya
29 Jul 2008 (09:11 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 144 kali |    
Tell me guys: Are We REal?
"If
real is what you can
feel, smell, taste and
see, then 'real' is
simply signals
interpreted by your
brain." - Morpheus
in The Matrix
Bena
r kata tokoh Yuda dalam
novel terbaru Ayu Utami,
Bilangan Fu,
"Orang-orang
yang menghadap televisi
itu juga sungguh-sungguh
bermuka sedih jika
diperintahkan untuk
berduka oleh televisi.
Ketika remaja aku telah
mencoba menonton
televisi, baik dari depan
maupun dari belakang.
Kedua-duanya menampakkkan
adegan kebodohan yang
sama mengerikan. Maka aku
berhenti menonton
tivi." Saya sih
tidak sampai sperti si
Yuda itu; berhenti
menonton tivi. Tapi
kejengahan dan
kegelisahan saya terhadap
acara-acara tv lokal kita
dan juga terhadap para
pemirsanya yg selalu
mengapresiasi acara-acara
jelek itu kurang lebihnya
sama dengan tokoh Yuda.
Televisi telah
merepresentasikan
realitas yg sebenarnya
tak ada, false image,
hyper-reality. Orang
sedih atau gembira pada
sesuatu yg tidak
seharusnya. Lihat saja
waktu semua channel tivi
mengabarkan berita
kematian mantan presiden
soeharto. kita semua
mendadak merasa
"kenal akrab"
dengan sang mantan
penguasa itu sehingga
ikut-ikutan merasa sedih
dan kehilangan. Lihat
juga bgm reaksi
berbondong-bondongnya
masyarakat kita yg datang
berdesakan di depan jalan
cendana karena ingin
melihat jenazah soeharto.
Bahkan saya juga ...baca selengkapnya
29 Jul 2008 (09:04 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 150 kali |    
Mengapa Kita Takut?
Saya
heran sekali melihat
seorang yang sudah saya
anggap sebagai pakde saya
sendiri, Pakde Hary,
dengan santainya
menyalakan lampu neon di
teras rumahnya hanya
dengan membuka isolasi
ujung kabel lampu
tersebut, sehingga
munculah serabut kawat
tembaga di dalamnya, lalu
menyambungkan serabut
kawat itu ke kabel yang
lainnya, yang saya lihat
dengan mata kepala saya
sendiri tengah tercolok
menempel pada panel
listrik di dinding
rumahnya. Setelah saya
perhatikan, kabel yang
tengah terhubung dengan
arus listrik itu ternyata
tengah menghidupkan
sebuah lampu di taman.
Jadi, lampu neon di teras
itu semacam
'dicangkokkan' ke kabel
lampu taman tadi,
sehingga ia ikut teraliri
listrik dan menyala.
Terus terang saya takjub.
Takjub, karena Pakde Hary
melakukannya tanpa
memutuskan arus listrik
yang mengalir di kabel
lampu taman tadi. Takjub,
karena beliau tidak
kesetrum. Dan takjub,
karena beliau berani
sekali melakukan hal itu
tanpa takut tersengat
arus lisrik. Terus terang
lagi, saya sih tak berani
melakukan itu. Saya
takut... ...baca selengkapnya
15 Jul 2008 (13:38 WIB) | Komentar (1) | Dibaca sebanyak 95 kali |    
Jampi-jampi Jumud Jarkasih
Bagi yg tdk
dengan sungguh-sungguh
memperhatikan, nampaknya
tdk perlu ada pembedaan
yg khusus antara cara
beragama orang-orang
primitif dengan agama
sukunya (animisme,
totemisme) dan orang
modern dengan agama
(mono) teisme nya. Saya
termasuk yg berusaha
untuk kritis, tdk saja
lewat pengamatan, tapi
juga dlm hal penerapannya
dlm kehidupan saya
sehari-hari. Alasannya
sederhana saja. Bagi
saya, agama dan
modernitas tak perlu
saling berlawanan. Saya
bisa dengan sekaligus
menjadi relijius dan
modern. Menjadi relijius
dan modern, tak bisa
dielakkan lagi. Apalagi
di Indonesia ini, yg
masyarakatnya masih
senang (baca: mudah
ditipu dan dimainkan
psikologisnya) dengan
simbol-simbol keagamaan.
Bagaimana sih beragama yg
modern itu? Untk menjawab
ini kita harus tahu dulu
seperti apa perilaku
orang primitif dalam
beragama, dalam
berkeyakinan. Singkat
saja, ciri khas yg paling
kentara dlm masy primitif
dalam hal beragama
terletak pada persoalan
magi.
Apa itu
magi? Harun Hadiwijono
mengatakan, Magi bisa
berarti sihir tapi dlm
arti luas dpt diartikan
sebagai ...baca selengkapnya
15 Jul 2008 (13:30 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 130 kali |    
untitled nih
"So I find
this law at work: When I
want to do good, evil is
right there with me. For
in my inner being I
delight in God's law, but
I see another law at work
in the members of my
body, waging war against
the law of my mind and
making me a prisoner of
the law of sin at work
within my members. What a
wretched man I am! Who
will rescue me from this
body of death? Thanks be
to God - through Jesus
Christ our lord! So then,
I myself in my mind am a
slave to God's law, but
in the sinful nature a
slave to the law of
sin...."
St. Paul - ...baca selengkapnya
05 Feb 2008 (11:31 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 89 kali |    
"Dia Yang Mencari, Akan Ditemukan"
"Ia
yang tak mencicipi, tak
mengetahui" - J.
Rumi -
Tiba-tiba aku
teringat dengan salah
satu dosenku ... lanjutan tulisan ini hanya bisa dibaca oleh anggota situs ini ...baca selengkapnya
04 Feb 2008 (11:25 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 76 kali |    
To: chandragayatri@vu.nl
Salam,
Ahoy sahabat…
aaakh betapa senangnya
diriku mendengar kembali
kabar tentangmu.
Setelah… adakah
mungkin sekitar satu
semester ini kita tak
saling menyapa dan
bertukar pikiran. Aku
tahu engkau pasti sibuk
sekali dengan studimu di
sana. Aku juga senang
ketika mengetahui bahwa
kau pun memahami
kesibukanku di sini. Dan,
saling memahami adalah
salah satu sendi yg
penting dlm menopang
sebuah hubungan, bukan?
Tentunya kau masih ingat
bagaimana naik turunnya
hubungan kita. Kadang
menggelikan seperti
anak-anak kecil. Namun
tak sedikit pula di
antaranya yg kita
selesaikan secara dewasa
dan baik-baik. Termasuk
juga soal affair
kita berdua yah,
hehehehe. Tapi, justru
dalam ketegangan itulah
hubungan kita bisa
bertahan hingga saat ini.
Gayatri sahabatku,
rupanya kau belum terlalu
banyak berubah ya. Masih
saja suka merumitkan
perkara-perkara hidup
yang sesungguhnya
ringkas-sederhana,
diangkat ke dalam taraf
berpikir
kritis-reflektif, sambil
berharap agar 'masalah yg
sebenarnya' lebih dpt
dikenali ketimbang
sekedar mengenal fenomena
atau gejalanya saja.
Rupanya fenomenologi-nya
Edmund Husserl -dengan
metode
bracketting-nya-
yg kita dpt di kelas
filsafat dulu, sangat
mempengaruhi ...baca selengkapnya
04 Feb 2008 (11:19 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 138 kali |    
|