BloKA!
LOGIN: Username: Password:

Depan | Khaverim | Blog AbuSedra | Profil AbuSedra
 

Quo Vadis, Domine?

Hendak kemana, Tuhan?

Stanislas Kurniawan

Stanislas Kurniawan

Beritahu Teman Anda tentang Blog ini

Blog ini telah dibuka sebanyak 1573 kali

Rata-rata pengunjung blog ini memberi nilai:


Beri nilai blog ini:
bintang

(5 terbaik dan 1 terburuk)

Posting Terbaru:

  • 12 Guyonan ala Yahudi
  • Perjalanan Menthos
  • Robert Wolter Monginsidi, Sang Penyair
  • Anak manusia
  • Mati di Salib, Dikubur Seperti Anjing
  • TUHAN tidak MahaKuasa
  • Financial freedom
  • Komentar Terbaru:

    Belum ada...

    Blog Sahabat-sahabat AbuSedra:

    Belum ada sahabat

    Mati di Salib, Dikubur Seperti Anjing

    Saya mengingat, seorang rohaniwan Katolik dari Yogya, Romo Atas (Atasius?) pernah sharing bahwa semasa kanak-kanak ia sering “diperingatkan&rdqu o; oleh kawan-kawan sebayanya ketika mati nanti ia akan disalib. Peringatan itu dulu juga pernah saya terima dari teman-teman sepermainan. “Kur, wong Kristen sesuk nek mati bakal dipentang! (Kur, orang Kristen besok kalau mati akan disalib.)” ujar mereka.

     

    Sebagai anak-anak saya tidak terlalu memahami konsep kematian. Saya pikir orang mati itu keadaannya sama dengan yang masih hidup, yaitu masih dapat melihat, mendengar, merasakan, hanya tidak bisa bergerak. Saya pernah mengutarakan kepada kakak perempuan saya bahwa kalau mati nanti tidak mau dikubur dalam tanah alasannya supaya tidak sesak nafas atau kelilipan. Tentu saja hal ini ditanggapinya dengan sebuah senyuman maklum.

     

    Bayangkan, seorang bocah lugu -yang berpikir bahwa orang mati masih bisa kelilipan- menerima peringatan bahwa ketika mati tangan dan kakinya akan dipakukan pada sebuah palang. Bakalan tidak bisa tidur dia.

     

    Tapi kegundahan itu tidak berlangsung lama sebab kemudian saya menyaksikan sendiri bahwa seorang tetangga yang beragama Katolik ketika mati justru didandani dengan setelan perlente lengkap dengan dasi, kaos tangan dan sepatu baru sehingga nampak netjis dalam peti mati dilapisi kain beludru serta bantal empuk. Belum lagi hiasan-hiasan berenda yang nampak benar-benar mewah. Padahal semasa hidup, jangankan mengenakan jas, dalam kesehariannya almarhum lebih sering terlihat santai mengenakan kaos oblong.

     

    Akhirnya saya menjadi lega sebab, bukan saja ketika mati tidak dipentang, dengan ditidurkan dalam peti mati saya nanti tidak akan kelilipan J

     

    Setelah saya pikir-pikir, adalah mustahil bila peringatan tersebut ditujukan untuk mengintimidasi bocah-bocah Kristen. Lebih masuk akal bila sebaliknya, ditebarkan oleh orang-orang non-Kristen untuk menakut-nakuti anak-anak mereka sendiri. Mengapa pula mereka mau menakut-nakuti anak sendiri? Supaya sedari kecil anak-anak itu mempunyai gambaran yang keliru mengenai Kekristenan. Di telinga anak-anak yang belum paham benar mengenai konsep kematian kalimat ‘orang Kristen kalau mati akan disalib’ bisa terdengar sebagai ‘orang Kristen kalau mati akan mendapat siksaan’. Padahal siksaan yang diterima orang mati adalah api neraka. Karena itu jangan coba-coba menjadi Kristen kalau tidak mau masuk neraka. 

     

    Lebih dari satu abad lampau, pada masa Kyai Sadrach Suropranoto, “peringatan” serupa pernah disebar-luaskan. Yaitu bahwa orang Kristen kalau mati dikubur seperti anjing, cuma ditimbun dengan tanah tanpa ritus selamatan.(I. Sumanto Wp, 1974) Padahal dalam kultur Jawa kematian dipandang sebagai peristiwa menuju kemuliaan. Melalui kematian manusia mengalami transformasi dari alam wadag, yaitu dunia kasar yang penuh nafsu dan noda dosa, menuju alam kelanggengan, yaitu alam halus tempat para roh yang suci. (Y.Tri Subagja, 2005) Dan demi memperlancar perpindahan itu setelah upacara penguburan biasanya diikuti pula upacara selamatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun hingga 1000 hari.

     

    Maka inipun sama saja mengatakan bahwa orang Kristen kalau mati tidak akan mendapat tempat di sorga sebab jenazahnya tidak diselamati. Karena itu kalau ingin masuk sorga jangan menjadi Kristen.

     

    Tentu saja setiap orang Kristen mengerti bahwa salib bukanlah siksaan melainkan tanda kemenangan TUHAN atas maut dan keselamatan orang percaya adalah karena iman bukan karena jenazahnya diselamati selama 1000 hari.

     

    Sayangnya, mereka yang menebar gosip-gosip semacam diatas tidak (mau) tahu.

     

    31 Okt 2009 (09:52 WIB) | Kirim ke Teman | Dibaca sebanyak 164 kali |

    Beri nilai tulisan ini:
    bintang
    (5 terbaik dan 1 terburuk)

    Komentar:


    Belum ada komentar...

    Komentar Anda:
    Pengirim:


    Isi Komentar:

    Editor Teks

    Kode Keamanan:


    Masukkan lima angka yang ada pada gambar di atas
    - tidak ada spasi

    << sebelumnya | berikutnya >>
    total: 0 data



    Tema Tampilan: Default
    Seluruh tulisan dan komentar dalam Blog AbuSedra ini menjadi tanggung jawab dari AbuSedra
    bukan tanggung jawab Kemah Abraham dan tidak selalu mewakili pemikiran dan teologi/doktrin Kemah Abraham

    bloKA! © 2007 Kemah Abraham
    created by oyr79