| |
|
| | | | |
Quo Vadis, Domine?Hendak kemana, Tuhan?Beritahu Teman Anda tentang Blog ini Posting Terbaru: Komentar Terbaru: Belum ada... Blog Sahabat-sahabat AbuSedra: |
Mati di Salib, Dikubur Seperti Anjing Saya mengingat,
seorang rohaniwan Katolik
dari Yogya, Romo Atas
(Atasius?) pernah
sharing bahwa
semasa kanak-kanak ia
sering
“diperingatkan&rdqu
o; oleh kawan-kawan
sebayanya ketika mati
nanti ia akan disalib.
Peringatan itu dulu juga
pernah saya terima dari
teman-teman sepermainan.
“Kur, wong
Kristen sesuk nek mati
bakal dipentang!
(Kur, orang Kristen besok
kalau mati akan
disalib.)” ujar
mereka. Sebagai
anak-anak saya tidak
terlalu memahami konsep
kematian. Saya pikir
orang mati itu keadaannya
sama dengan yang masih
hidup, yaitu masih dapat
melihat, mendengar,
merasakan, hanya tidak
bisa bergerak. Saya
pernah mengutarakan
kepada kakak perempuan
saya bahwa kalau mati
nanti tidak mau dikubur
dalam tanah alasannya
supaya tidak sesak nafas
atau kelilipan. Tentu
saja hal ini
ditanggapinya dengan
sebuah senyuman
maklum. Bayangkan,
seorang bocah lugu -yang
berpikir bahwa orang mati
masih bisa kelilipan-
menerima peringatan bahwa
ketika mati tangan dan
kakinya akan dipakukan
pada sebuah palang.
Bakalan tidak bisa tidur
dia. Tapi kegundahan
itu tidak berlangsung
lama sebab kemudian saya
menyaksikan sendiri bahwa
seorang tetangga yang
beragama Katolik ketika
mati justru didandani
dengan setelan perlente
lengkap dengan dasi, kaos
tangan dan sepatu baru
sehingga nampak netjis
dalam peti mati dilapisi
kain beludru serta bantal
empuk. Belum lagi
hiasan-hiasan berenda
yang nampak benar-benar
mewah. Padahal semasa
hidup, jangankan
mengenakan jas, dalam
kesehariannya almarhum
lebih sering terlihat
santai mengenakan kaos
oblong. Akhirnya saya
menjadi lega sebab, bukan
saja ketika mati tidak
dipentang, dengan
ditidurkan dalam peti
mati saya nanti tidak
akan kelilipan
J Setelah saya
pikir-pikir, adalah
mustahil bila peringatan
tersebut ditujukan untuk
mengintimidasi
bocah-bocah Kristen.
Lebih masuk akal bila
sebaliknya, ditebarkan
oleh orang-orang
non-Kristen untuk
menakut-nakuti anak-anak
mereka sendiri. Mengapa
pula mereka mau
menakut-nakuti anak
sendiri? Supaya sedari
kecil anak-anak itu
mempunyai gambaran yang
keliru mengenai
Kekristenan. Di telinga
anak-anak yang belum
paham benar mengenai
konsep kematian kalimat
‘orang Kristen
kalau mati akan
disalib’ bisa
terdengar sebagai
‘orang Kristen
kalau mati akan mendapat
siksaan’. Padahal
siksaan yang diterima
orang mati adalah api
neraka. Karena itu jangan
coba-coba menjadi Kristen
kalau tidak mau masuk
neraka. Lebih dari satu
abad lampau, pada masa
Kyai Sadrach Suropranoto,
“peringatan”
serupa pernah
disebar-luaskan. Yaitu
bahwa orang Kristen kalau
mati dikubur seperti
anjing, cuma ditimbun
dengan tanah tanpa ritus
selamatan.(I. Sumanto Wp,
1974) Padahal dalam
kultur Jawa kematian
dipandang sebagai
peristiwa menuju
kemuliaan. Melalui
kematian manusia
mengalami transformasi
dari alam wadag, yaitu
dunia kasar yang penuh
nafsu dan noda dosa,
menuju alam kelanggengan,
yaitu alam halus tempat
para roh yang suci.
(Y.Tri Subagja, 2005) Dan
demi memperlancar
perpindahan itu setelah
upacara penguburan
biasanya diikuti pula
upacara selamatan 3 hari,
7 hari, 40 hari, 100
hari, 1 tahun, 2 tahun
hingga 1000
hari. Maka inipun sama
saja mengatakan bahwa
orang Kristen kalau mati
tidak akan mendapat
tempat di sorga sebab
jenazahnya tidak
diselamati. Karena itu
kalau ingin masuk sorga
jangan menjadi
Kristen. Tentu saja
setiap orang Kristen
mengerti bahwa salib
bukanlah siksaan
melainkan tanda
kemenangan TUHAN atas
maut dan keselamatan
orang percaya adalah
karena iman bukan karena
jenazahnya diselamati
selama 1000
hari. Sayangnya,
mereka yang menebar
gosip-gosip semacam
diatas tidak (mau)
tahu.
<< sebelumnya | berikutnya >> total: 0 data |
|||||