BloKA!
LOGIN: Username: Password:

Depan | Khaverim | Blog AbuSedra | Profil AbuSedra
 

Quo Vadis, Domine?

Hendak kemana, Tuhan?

Stanislas Kurniawan

Stanislas Kurniawan

Beritahu Teman Anda tentang Blog ini

Blog ini telah dibuka sebanyak 1488 kali

Rata-rata pengunjung blog ini memberi nilai:


Beri nilai blog ini:
bintang

(5 terbaik dan 1 terburuk)

Posting Terbaru:

  • 12 Guyonan ala Yahudi
  • Perjalanan Menthos
  • Robert Wolter Monginsidi, Sang Penyair
  • Anak manusia
  • Mati di Salib, Dikubur Seperti Anjing
  • TUHAN tidak MahaKuasa
  • Financial freedom
  • Komentar Terbaru:

    Belum ada...

    Blog Sahabat-sahabat AbuSedra:

    Belum ada sahabat

    12 Guyonan ala Yahudi

    Negosiator ulung

    Moshe masuk ke sebuah restoran dan memesan seporsi kentang latkes untuk makan siang. Namun setelah pelayan menghidangkan latkes pesanannya, ia tidak terlalu suka dengan bentuk dan rupa makanan yang membuat selera makannya berkurang itu. Iapun mengganti pesanannya dengan seporsi blintzes lalu memakannya dengan lahap. Setelah selesai ia segera berdiri dan melangkah keluar restoran. Melihat ini sang manajer restoran mengejarnya, “Hei, tunggu dulu, bung. Anda belum membayar blintzes yang anda santap.”

    “Apa maksudmu?” jawab Moshe,”Aku telah memberimu kentang latkes sebagai ganti Blintzes tersebut.”

    “Benar, tapi anda kan juga belum membayar Latkes tersebut.”

    “Lho, buat apa aku harus membayar kentang latkes tersebut? Wong, bukan aku yang memakannya.”

    Cerdik

    Pada sabtu pagi Saul dan Ira sedang berjalan-jalan menuntun anjing-anjing mereka. Ketika melewati sebuah sinagoga Saul berkata,”Hei, ayo kita masuk ke dalam. Aku dengar mereka selalu menghidangkan kiddish yang lezat, lho.”

    Jawab Ira,”Mana mungkin kita boleh masuk. Wong, kita membawa anjing.”

    “Itu mah, kecil.” sahut Saul seraya berjalan memasuki sinagoga,”Ikuti saja aksiku. Dijamin pasti berhasil.”

    Di pintu masuk, Sang Shammas –penjaga sinagoga- mencegatnya dan berkata,”Maaf, anjing dilarang masuk.”

    “Tapi, ini kan anjing penuntun saya.” jawab Saul. Ia pura-pura menjadi seorang tuna netra.

    “Duh, maaf. Saya tidak tahu.” jawab Sang Shammas.”Silahkan anda masuk.”Melihat keberhasilan kawannya, Ira meniru siasat Saul. Sekali lagi di pintu masuk Sang Shammas memperingatkan,”Maa f, anjing tidak boleh masuk.”

    “Tapi ini kan anjing penuntun saya.” jawab Ira pe-de.

    “Yang benar saja !” seru sang Shammas,”Masak anjing penuntunmu seekor Chihuahua!”< /p>

    Ira tidak kehilangan akal. Ia menyahut,”Apa! Mereka memberi saya Chihuahua!”< /p>

    Orang saleh

    Menahem dan Yoram adalah dua bersaudara yang tinggal dan bekerja di satu kota. Keduanya adalah orang bejat yang hidup dalam kejahatan dan mengelola bisnis haram. Merampok orang miskin, menipu dan memanipulasi pajak tidak segan-segan mereka lakukan demi meraup uang sebanyak-banyaknya. Dan memang mereka menjadi sangat kaya raya, melebihi semua orang di kotanya.

    Ketika Menahem mati, Yoram -sang adik- menemui Rabi Zakaria dan berkata,”Rabi, saya akan menyumbang uang sebanyak satu juta dolar apabila dalam upacara pemakaman kakak saya nanti anda bersedia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang saleh.”Uang satu juta dolar adalah jumlah yang tidak sedikit. Sang Rabi menimbang-nimbang permintaan tersebut cukup lama, ...baca selengkapnya

    18 Des 2009 (11:03 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 125 kali |

    Perjalanan Menthos

    Pada masa pemerintahan Kaisar Claudius, sekitar pertengahan abad pertama Masehi, di Kota Athena hiduplah seorang Yunani bernama Menthos. Ia adalah seorang yang meragukan keberadaan dewa-dewa meskipun ayahnya adalah seorang imam Zeus, dewa tertinggi bangsa Yunani. Baginya keberadaan dewa-dewa sangat bertentangan dengan realitas yang dialami manusia. Harmoni dan keajekan yang diperlihatkan alam sangat bertolak belakang dengan logika keberadaan dewa-dewa.

    “Mat ahari yang selalu terbit setiap pagi, bintang-bintang yang tidak pernah beranjak dari tempatnya, musim-musim yang datang silih berganti secara teratur,” kata Menthos dalam suatu dialog bersama beberapa ahli pikir Yunani,” sangatlah mustahil semua keharmonisan itu disebabkan oleh dewa-dewa. Keberadaan dewa-dewa cuma akan membuat kekacauan belaka! Bila mereka oleh suatu sebab berselisih satu sama lain, niscaya salju akan turun pada waktu musim panas, daun-daun akan berguguran pada waktu musim semi, matahari akan terbit ketika malam, dan setiap bintang akan berpindah tempat kesana kemari seturut naik turunnya emosi para dewa.”

    “Eng kau selalu mengucapkan ‘dewa-dewa’, dan jalan pemikiranmu memang cukup meyakinkan dalam logika keberadaan banyak dewa.” sahut seorang yang lain,”Namun bagaimana bila ternyata hanya ada satu dewa, bukankah perselisihan tidak akan terjadi dan dengan demikian harmoni alam tetap terjaga?”

    “Pen dapatmu itu membutuhkan prasyarat,” jawab Menthos,”sebab bila hanya ada satu dewa, maka pastilah ia dewa yang luar biasa. Selain itu haruslah ia memiliki kesabaran tak terbatas, mengatur alam yang sedemikian besar ini seorang diri. Dimanakah bisa ditemukan dewa seperti itu?”

    “Ban gsa Yahudi hanya menyembah satu dewa, yaitu YHWH. Dalam buku-buku suci mereka Ia dipuja-puja sebagai yang maha tinggi dan yang panjang sabar. Mungkinkah Dia sang dewa penguasa semesta ini?” 

    “Ya, aku pernah mendengar sedikit tentang dewa Yahudi yang bernama YHWH itu.” celetuk Menthos,”Namun kupikir, mustahil bila Ia adalah penguasa semesta ini sebab bila demikian niscaya Ia tidak akan melarang orang-orang Yahudi konyol itu bergaul dengan bangsa-bangsa lain, toh Ia juga penguasa tunggal semesta yang di dalamnya tercakup juga bangsa-bangsa non-Yahudi.”

    “Aku paham maksudmu, sobat. Adat istiadat Yahudi memang melarang mereka, bahkan untuk sekedar makan semeja dengan orang-orang dari bangsa lain.”

    “Jel as bukan Dia dewa yang kita cari.”

    Tepat ketika Menthos menyelesaikan kalimatnya dari arah utara, yaitu pasar Kota Athena, datang berbondong-bondong para pengikut Epikuros dan Kaum Stoa. Mereka menggiring seorang lelaki naik ke atas bukit untuk dihadapkan kepada dewan Areopagus.

    “Hei aku mengenal orang itu, dia si tukang tenda dari Tarsus. Namanya Paulus, seorang Yahudi !” seru seorang kawan Menthos.

    “Wah , rupanya kita bernasib baik. Marilah kita dengarkan apa yang hendak dikatakan orang itu, siapa tahu pengetahuan kita tentang dewa Yahudi yang tengah kita bicarakan tadi bertambah.”  Menthos dan kawan-kawannya bergabung bersama ...baca selengkapnya

    16 Des 2009 (08:46 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 190 kali |

    Robert Wolter Monginsidi, Sang Penyair

    Setiap orang Indonesia pasti tidak asing dengan nama Robert Wolter Monginsidi bukan? Kalimat ‘setia hingga akhir dalam keyakinan’ nya telah membahana ke pelosok negeri. Sejarah Indonesia mencatat bahwa pahlawan nasional kelahiran Manado tanggal 14  Februari 1925 ini gugur dalam usia muda. Ia tewas dieksekusi oleh regu tembak Belanda pada tanggal 5 September 1949 di Panaikang Tello.

     Selain dikenal sebagai seorang yang cerdas, pemberani, ...baca selengkapnya

    03 Des 2009 (20:46 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 198 kali |

    Anak manusia

    Anak manusia itu adalah seorang lelaki yang pulang kerja dengan membawa hasil jerih payahnya selama satu bulan yang lampau. Satu senyum kelegaan tersungging manis di bibirnya. Akhirnya setelah tiga bulan menunggak uang sewa rumah ia akan dapat segera melunasinya pada hari ini juga. Dan anak-istrinyapun dapat kembali menikmati makanan yang layak, setidaknya sampai bulan depan. Lelaki itu memiliki semua alasan untuk berbahagia.

     Dalam perjalanan pulang ia menyapa hangat setiap orang yang ditemuinya. Semua penumpang bus yang duduk di dekatnyapun diajak mengobrol dalam keakraban. Namun saat turun dari bus kota ia merasakan sesuatu yang janggal. Dimanakah ia tadi mengantongi dompet berisi uang gajinya bulan ini? Dengan gelisah tangannya meraba jaket, baju dan celananya berharap menemukan dompet hitamnya menyisip dalam salah satu saku. Ia tidak menemukan dompet tuanya itu. Ia kecopetan! Seketika itu senyum di bibirnya sirna.

    Sang pemilik kontrakan telah mengultimatum dirinya pagi tadi: bila hari ini tidak dapat melunasi tunggakan uang sewa, silahkan saja berkemas dan ...baca selengkapnya

    18 Nov 2009 (16:34 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 127 kali |

    Mati di Salib, Dikubur Seperti Anjing

    Saya mengingat, seorang rohaniwan Katolik dari Yogya, Romo Atas (Atasius?) pernah sharing bahwa semasa kanak-kanak ia sering “diperingatkan&rdqu o; oleh kawan-kawan sebayanya ketika mati nanti ia akan disalib. Peringatan itu dulu juga pernah saya terima dari teman-teman sepermainan. “Kur, wong Kristen sesuk nek mati bakal dipentang! (Kur, orang Kristen besok kalau mati akan disalib.)” ujar mereka.

     

    Sebagai anak-anak saya tidak terlalu memahami konsep kematian. Saya pikir orang mati itu keadaannya sama dengan yang masih hidup, yaitu masih dapat melihat, mendengar, merasakan, hanya tidak bisa bergerak. Saya pernah mengutarakan kepada kakak perempuan saya bahwa kalau mati nanti tidak mau dikubur dalam tanah alasannya supaya tidak sesak nafas atau kelilipan. Tentu saja hal ini ditanggapinya dengan sebuah senyuman maklum.

     

    Bayangkan, seorang bocah lugu -yang berpikir bahwa orang mati masih ...baca selengkapnya

    31 Okt 2009 (09:52 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 157 kali |

    TUHAN tidak MahaKuasa

    Sebagai judul sebuah artikel kalimat ‘TUHAN tidak MahaKuasa’ tentu cukup -untuk tidak menyombongkan diri dengan menilai : sangat- menarik perhatian dan merangsang rasa ingin tahu, bukan? Namun apakah reaksi anda bila seseorang mengatakan bahwa TUHAN tidak MahaKuasa ? Apakah anda marah, murka, dan menganggap orang tersebut kurang ajar atau bahkan sesat karena menghujat Yang MahaTinggi, Allah Israel.

     

    Kira-kira 10 tahun yang lampau saya telah menyatakan secara tegas kalimat itu kepada Bagus, kawan satu angkatan di fakultas hukum sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Dia menjadi sangat gusar, wajahnya merah padam dan meskipun tidak dia nyatakan secara verbal namun dari hardikannya jelas bahwa dia menganggap hal itu sebagai sebuah hujatan.

     

    “Ngawur kamu,” sergahnya, “kalo ngomong jangan sembarangan!”

    “Lha, memang begitu kenyataan yang ditulis dalam Alkitab.” Saya membela.

    “Kuasa TUHAN itu sangat besar. Ia bisa melakukan segala hal.” kata Bagus.

    “Ada setidaknya satu hal yang tidak bisa dilakukan olehNya.” ujar saya. ”TUHAN tidak bisa membanjiri bumi dengan air bah untuk memusnahkan manusia.”

    “Ya bisalah. Kuasa TUHAN itu dahsyat tak terhingga.” Bagus menyanggah.

    “Tidak bisa.” saya bersikukuh,” Sebab Dia telah mengadakan perjanjian dengan Nuh dan semua mahkluk yang ada di dalam bahtera bahwa tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan seluruh bumi.”

    “Ah, sudahlah. Tuhan itu MahaKuasa. Titik!” tegas Bagus.”Kamu harus bertobat.” Demikian percakapan kami berakhir.

     

     

    Konsep perjanjian sebagai hukum yang mengikat dan “memaksa” para pihak untuk memenuhi prestasi yang dijanjikan bukanlah gagasan aneh bagi kami berdua. Sebab itulah hal utama yang kami pelajari dari kelas hukum perdata mengenai verbintenisrecht . Saya tidak memandang rendah daya tangkapnya mengenai teori hukum perdata, jadi pemahaman kami dalam hal ini setidak-tidaknya setara kecuali dia lebih tinggi. Sebab saya yang jarang mengikuti kelas tersebut tidak pernah kepayahan bila sekedar mengejar nilai B. Apalagi dia yang sangat rajin, tentunya mudah untuk mendapatkan nilai A.

     

    Beginilah kira-kira kerangka berpikir saya waktu itu.

     

    Pertama,

    Perjanjian antara TUHAN dan Nuh dapat dikategorikan sebagai perjanjian sepihak-negatif. Sepihak karena wils verklaring (deklarasi kehendak) hanya dilakukan oleh satu pihak saja , yaitu TUHAN. Negatif sebab prestasi yang dijanjikan adalah niet ...baca selengkapnya

    21 Okt 2009 (10:06 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 150 kali |

    Financial freedom

    Perkembangan teknologi yang demikian pesat dewasa ini, bagi sebagian orang dinilai mendatangkan kemudahan-kemudahan dalam hidup. Namun bagi sebagian lain memunculkan suatu kekhawatiran bahwa kelak manusia justru akan dicengkeram oleh kekuasaan teknologi. Ekstrim dari gagasan ini menjadi tema sebuah film fiksi ilmiah produksi Hollywood yang dibintangi Keanu Reeves, berjudul The Matrix. Dalam film ini komputer-komputer menjadikan manusia se-bagai “bahan bakar”. Kabel-kabel ditancapkan ke tubuh-tubuh mati suri untuk menyedot energi yang digunakan untuk menghidupkan komputer-komputer tersebut. Sementara dalam film lain-nya yang tidak kalah seru, yaitu Terminator, mesin-mesin ciptaan manusia berhasil menguasai bumi dan melancarkan genosida terhadap ras manusia.

    Keadaan dimana manusia diperhamba benda ciptaannya bukanlah fiksi. 2600 tahun setelah –menurut Herodotus- koin pertama dicetak oleh bangsa Lidia, monere –atau piti dalam bahasa Minang-  telah  mengontrol tindak-tanduk banyak orang. Tanyakanlah kepada sembarang orang di jalan, untuk apa mereka bekerja? Jawaban apalagi yang jamak bila bukan: mencari uang! Ta-warkanlah suatu pekerjaan yang melelahkan badan dan pikiran namun  tidak menghasilkan uang kepada 5 orang pengangguran. Adakah diantara mereka  tanpa basa-basi segera menyanggupi? Tawarkanlah suatu proyek membalik telapak tangan seharga 1 milyar kepada 5 anggota parle-men. Adakah diantara mereka malu- malu  menerimanya? Mentalitas “mencari uang” telah sede-mikian mengakar sehingga para orangtua selalu menasehatkan kepada anak-anaknya –bahkan se-menjak masih balita- agar tekun belajar supaya menjadi orang pintar dan kelak mudah ...baca selengkapnya

    22 Sep 2009 (05:41 WIB) | Komentar (0) | Dibaca sebanyak 182 kali |



    Tema Tampilan: Default
    Seluruh tulisan dan komentar dalam Blog AbuSedra ini menjadi tanggung jawab dari AbuSedra
    bukan tanggung jawab Kemah Abraham dan tidak selalu mewakili pemikiran dan teologi/doktrin Kemah Abraham

    bloKA! © 2007 Kemah Abraham
    created by oyr79