| |
|
| | | | |
Quo Vadis, Domine?Hendak kemana, Tuhan?Beritahu Teman Anda tentang Blog ini Posting Terbaru: Komentar Terbaru: Belum ada... Blog Sahabat-sahabat AbuSedra: |
12 Guyonan ala Yahudi Negosiator ulung
Moshe masuk
ke sebuah restoran dan
memesan seporsi kentang
latkes untuk makan siang.
Namun setelah pelayan
menghidangkan latkes
pesanannya, ia tidak
terlalu suka dengan
bentuk dan rupa makanan
yang membuat selera
makannya berkurang itu.
Iapun mengganti
pesanannya dengan seporsi
blintzes lalu memakannya
dengan lahap. Setelah
selesai ia segera berdiri
dan melangkah keluar
restoran. Melihat ini
sang manajer restoran
mengejarnya, “Hei,
tunggu dulu, bung. Anda
belum membayar blintzes
yang anda
santap.” “Apa
maksudmu?” jawab
Moshe,”Aku telah
memberimu kentang latkes
sebagai ganti Blintzes
tersebut.”
“Benar,
tapi anda kan juga belum
membayar Latkes
tersebut.”
“Lho,
buat apa aku harus
membayar kentang latkes
tersebut? Wong, bukan aku
yang
memakannya.”
Cerdik Pada sabtu
pagi Saul dan Ira sedang
berjalan-jalan menuntun
anjing-anjing mereka.
Ketika melewati sebuah
sinagoga Saul
berkata,”Hei, ayo
kita masuk ke dalam. Aku
dengar mereka selalu
menghidangkan kiddish
yang lezat,
lho.” Jawab
Ira,”Mana mungkin
kita boleh masuk. Wong,
kita membawa
anjing.” “Itu
mah, kecil.” sahut
Saul seraya berjalan
memasuki
sinagoga,”Ikuti
saja aksiku. Dijamin
pasti
berhasil.”
Di pintu
masuk, Sang Shammas
–penjaga sinagoga-
mencegatnya dan
berkata,”Maaf,
anjing dilarang
masuk.” “Tapi,
ini kan anjing penuntun
saya.” jawab Saul.
Ia pura-pura menjadi
seorang tuna
netra. “Duh,
maaf. Saya tidak
tahu.” jawab Sang
Shammas.”Silahkan
anda masuk.”Melihat
keberhasilan kawannya,
Ira meniru siasat Saul.
Sekali lagi di pintu
masuk Sang Shammas
memperingatkan,”Maa
f, anjing tidak boleh
masuk.” “Tapi
ini kan anjing penuntun
saya.” jawab Ira
pe-de. “Yang
benar saja !” seru
sang Shammas,”Masak
anjing penuntunmu seekor
Chihuahua!”<
/p>
Ira tidak
kehilangan akal. Ia
menyahut,”Apa!
Mereka memberi saya
Chihuahua!”<
/p>
Orang
saleh Menahem dan
Yoram adalah dua
bersaudara yang tinggal
dan bekerja di satu kota.
Keduanya adalah orang
bejat yang hidup dalam
kejahatan dan mengelola
bisnis haram. Merampok
orang miskin, menipu dan
memanipulasi pajak tidak
segan-segan mereka
lakukan demi meraup uang
sebanyak-banyaknya. Dan
memang mereka menjadi
sangat kaya raya,
melebihi semua orang di
kotanya. Ketika
Menahem mati, Yoram -sang
adik- menemui Rabi
Zakaria dan
berkata,”Rabi, saya
akan menyumbang uang
sebanyak satu juta dolar
apabila dalam upacara
pemakaman kakak saya
nanti anda bersedia
mengatakan bahwa dirinya
adalah seorang
saleh.”Uang satu
juta dolar adalah jumlah
yang tidak sedikit. Sang
Rabi menimbang-nimbang
permintaan tersebut cukup
lama, ...baca selengkapnya Pada masa
pemerintahan Kaisar
Claudius, sekitar
pertengahan abad pertama
Masehi, di Kota Athena
hiduplah seorang Yunani
bernama Menthos. Ia
adalah seorang yang
meragukan keberadaan
dewa-dewa meskipun
ayahnya adalah seorang
imam Zeus, dewa tertinggi
bangsa Yunani. Baginya
keberadaan dewa-dewa
sangat bertentangan
dengan realitas yang
dialami manusia. Harmoni
dan keajekan yang
diperlihatkan alam sangat
bertolak belakang dengan
logika keberadaan
dewa-dewa. “Mat
ahari yang selalu terbit
setiap pagi,
bintang-bintang yang
tidak pernah beranjak
dari tempatnya,
musim-musim yang datang
silih berganti secara
teratur,” kata
Menthos dalam suatu
dialog bersama beberapa
ahli pikir Yunani,”
sangatlah mustahil semua
keharmonisan itu
disebabkan oleh
dewa-dewa. Keberadaan
dewa-dewa cuma akan
membuat kekacauan belaka!
Bila mereka oleh suatu
sebab berselisih satu
sama lain, niscaya salju
akan turun pada waktu
musim panas, daun-daun
akan berguguran pada
waktu musim semi,
matahari akan terbit
ketika malam, dan setiap
bintang akan berpindah
tempat kesana kemari
seturut naik turunnya
emosi para
dewa.” “Eng
kau selalu mengucapkan
‘dewa-dewa’,
dan jalan pemikiranmu
memang cukup meyakinkan
dalam logika keberadaan
banyak dewa.” sahut
seorang yang
lain,”Namun
bagaimana bila ternyata
hanya ada satu dewa,
bukankah perselisihan
tidak akan terjadi dan
dengan demikian harmoni
alam tetap
terjaga?” “Pen
dapatmu itu membutuhkan
prasyarat,” jawab
Menthos,”sebab bila
hanya ada satu dewa, maka
pastilah ia dewa yang
luar biasa. Selain itu
haruslah ia memiliki
kesabaran tak terbatas,
mengatur alam yang
sedemikian besar ini
seorang diri. Dimanakah
bisa ditemukan dewa
seperti itu?” “Ban
gsa Yahudi hanya
menyembah satu dewa,
yaitu YHWH. Dalam
buku-buku suci mereka Ia
dipuja-puja sebagai yang
maha tinggi dan yang
panjang sabar. Mungkinkah
Dia sang dewa penguasa
semesta
ini?” “Ya,
aku pernah mendengar
sedikit tentang dewa
Yahudi yang bernama YHWH
itu.” celetuk
Menthos,”Namun
kupikir, mustahil bila Ia
adalah penguasa semesta
ini sebab bila demikian
niscaya Ia tidak akan
melarang orang-orang
Yahudi konyol itu bergaul
dengan bangsa-bangsa
lain, toh Ia juga
penguasa tunggal semesta
yang di dalamnya tercakup
juga bangsa-bangsa
non-Yahudi.” “Aku
paham maksudmu, sobat.
Adat istiadat Yahudi
memang melarang mereka,
bahkan untuk sekedar
makan semeja dengan
orang-orang dari bangsa
lain.” “Jel
as bukan Dia dewa yang
kita cari.” Tepat
ketika Menthos
menyelesaikan kalimatnya
dari arah utara, yaitu
pasar Kota Athena, datang
berbondong-bondong para
pengikut Epikuros dan
Kaum Stoa. Mereka
menggiring seorang lelaki
naik ke atas bukit untuk
dihadapkan kepada dewan
Areopagus. “Hei
aku mengenal orang itu,
dia si tukang tenda dari
Tarsus. Namanya Paulus,
seorang Yahudi !”
seru seorang kawan
Menthos. “Wah
, rupanya kita bernasib
baik. Marilah kita
dengarkan apa yang hendak
dikatakan orang itu,
siapa tahu pengetahuan
kita tentang dewa Yahudi
yang tengah kita
bicarakan tadi
bertambah.”
Menthos dan
kawan-kawannya bergabung
bersama ...baca selengkapnya Setiap orang Indonesia
pasti tidak asing dengan
nama Robert Wolter
Monginsidi bukan? Kalimat
‘setia hingga akhir
dalam keyakinan’
nya telah membahana ke
pelosok negeri. Sejarah
Indonesia mencatat bahwa
pahlawan nasional
kelahiran Manado tanggal
14 Februari 1925
ini gugur dalam usia
muda. Ia tewas dieksekusi
oleh regu tembak Belanda
pada tanggal 5 September
1949 di Panaikang
Tello. Selain dikenal
sebagai seorang yang
cerdas, pemberani, ...baca selengkapnya Anak
manusia itu
adalah seorang lelaki
yang pulang kerja dengan
membawa hasil jerih
payahnya selama satu
bulan yang lampau. Satu
senyum kelegaan
tersungging manis di
bibirnya. Akhirnya
setelah tiga bulan
menunggak uang sewa rumah
ia akan dapat segera
melunasinya pada hari ini
juga. Dan
anak-istrinyapun dapat
kembali menikmati makanan
yang layak, setidaknya
sampai bulan depan.
Lelaki itu memiliki semua
alasan untuk
berbahagia. Dalam
perjalanan pulang ia
menyapa hangat setiap
orang yang ditemuinya.
Semua penumpang bus yang
duduk di dekatnyapun
diajak mengobrol dalam
keakraban. Namun saat
turun dari bus kota ia
merasakan sesuatu yang
janggal. Dimanakah ia
tadi mengantongi dompet
berisi uang gajinya bulan
ini? Dengan gelisah
tangannya meraba jaket,
baju dan celananya
berharap menemukan dompet
hitamnya menyisip dalam
salah satu saku. Ia tidak
menemukan dompet tuanya
itu. Ia kecopetan!
Seketika itu senyum di
bibirnya sirna. Sang pemilik
kontrakan telah
mengultimatum dirinya
pagi tadi: bila hari ini
tidak dapat melunasi
tunggakan uang sewa,
silahkan saja berkemas
dan ...baca selengkapnya Saya mengingat,
seorang rohaniwan Katolik
dari Yogya, Romo Atas
(Atasius?) pernah
sharing bahwa
semasa kanak-kanak ia
sering
“diperingatkan&rdqu
o; oleh kawan-kawan
sebayanya ketika mati
nanti ia akan disalib.
Peringatan itu dulu juga
pernah saya terima dari
teman-teman sepermainan.
“Kur, wong
Kristen sesuk nek mati
bakal dipentang!
(Kur, orang Kristen besok
kalau mati akan
disalib.)” ujar
mereka. Sebagai
anak-anak saya tidak
terlalu memahami konsep
kematian. Saya pikir
orang mati itu keadaannya
sama dengan yang masih
hidup, yaitu masih dapat
melihat, mendengar,
merasakan, hanya tidak
bisa bergerak. Saya
pernah mengutarakan
kepada kakak perempuan
saya bahwa kalau mati
nanti tidak mau dikubur
dalam tanah alasannya
supaya tidak sesak nafas
atau kelilipan. Tentu
saja hal ini
ditanggapinya dengan
sebuah senyuman
maklum. Bayangkan,
seorang bocah lugu -yang
berpikir bahwa orang mati
masih ...baca selengkapnya Sebagai judul sebuah
artikel kalimat
‘TUHAN tidak
MahaKuasa’ tentu
cukup -untuk tidak
menyombongkan diri dengan
menilai : sangat- menarik
perhatian dan merangsang
rasa ingin tahu, bukan?
Namun apakah reaksi anda
bila seseorang mengatakan
bahwa TUHAN tidak
MahaKuasa ? Apakah anda
marah, murka, dan
menganggap orang tersebut
kurang ajar atau bahkan
sesat karena menghujat
Yang MahaTinggi, Allah
Israel. Kira-kira 10 tahun
yang lampau saya telah
menyatakan secara tegas
kalimat itu kepada Bagus,
kawan satu angkatan di
fakultas hukum sebuah
universitas negeri di
Yogyakarta. Dia menjadi
sangat gusar, wajahnya
merah padam dan meskipun
tidak dia nyatakan secara
verbal namun dari
hardikannya jelas bahwa
dia menganggap hal itu
sebagai sebuah
hujatan. “Ngawur
kamu,” sergahnya,
“kalo ngomong
jangan
sembarangan!” “Lha, memang
begitu kenyataan yang
ditulis dalam
Alkitab.” Saya
membela. “Kuasa TUHAN itu
sangat besar. Ia bisa
melakukan segala
hal.” kata
Bagus. “Ada setidaknya
satu hal yang tidak bisa
dilakukan olehNya.”
ujar saya. ”TUHAN
tidak bisa membanjiri
bumi dengan air bah untuk
memusnahkan
manusia.” “Ya bisalah.
Kuasa TUHAN itu dahsyat
tak terhingga.”
Bagus menyanggah. “Tidak
bisa.” saya
bersikukuh,” Sebab
Dia telah mengadakan
perjanjian dengan Nuh dan
semua mahkluk yang ada di
dalam bahtera bahwa tidak
akan ada lagi air bah
untuk memusnahkan seluruh
bumi.” “Ah, sudahlah.
Tuhan itu MahaKuasa.
Titik!” tegas
Bagus.”Kamu harus
bertobat.” Demikian
percakapan kami
berakhir. Konsep perjanjian
sebagai hukum yang
mengikat dan
“memaksa”
para pihak untuk memenuhi
prestasi yang dijanjikan
bukanlah gagasan aneh
bagi kami berdua. Sebab
itulah hal utama yang
kami pelajari dari kelas
hukum perdata mengenai
verbintenisrecht
. Saya tidak memandang
rendah daya tangkapnya
mengenai teori hukum
perdata, jadi pemahaman
kami dalam hal ini
setidak-tidaknya setara
kecuali dia lebih tinggi.
Sebab saya yang jarang
mengikuti kelas tersebut
tidak pernah kepayahan
bila sekedar mengejar
nilai B. Apalagi dia yang
sangat rajin, tentunya
mudah untuk mendapatkan
nilai A. Beginilah kira-kira
kerangka berpikir saya
waktu itu. Pertama, Perjanjian antara
TUHAN dan Nuh dapat
dikategorikan sebagai
perjanjian
sepihak-negatif. Sepihak
karena wils
verklaring
(deklarasi kehendak)
hanya dilakukan oleh satu
pihak saja , yaitu TUHAN.
Negatif sebab prestasi
yang dijanjikan adalah
niet ...baca selengkapnya Perkembangan teknologi
yang demikian pesat
dewasa ini, bagi sebagian
orang dinilai
mendatangkan
kemudahan-kemudahan dalam
hidup. Namun bagi
sebagian lain memunculkan
suatu kekhawatiran bahwa
kelak manusia justru akan
dicengkeram oleh
kekuasaan teknologi.
Ekstrim dari gagasan ini
menjadi tema sebuah film
fiksi ilmiah produksi
Hollywood yang dibintangi
Keanu Reeves, berjudul
The Matrix. Dalam film
ini komputer-komputer
menjadikan manusia
se-bagai “bahan
bakar”. Kabel-kabel
ditancapkan ke
tubuh-tubuh mati suri
untuk menyedot energi
yang digunakan untuk
menghidupkan
komputer-komputer
tersebut. Sementara dalam
film lain-nya yang tidak
kalah seru, yaitu
Terminator, mesin-mesin
ciptaan manusia berhasil
menguasai bumi dan
melancarkan genosida
terhadap ras
manusia. Keadaan dimana manusia
diperhamba benda
ciptaannya bukanlah
fiksi. 2600 tahun setelah
–menurut Herodotus-
koin pertama dicetak oleh
bangsa Lidia,
monere
–atau piti
dalam bahasa Minang-
telah
mengontrol
tindak-tanduk banyak
orang. Tanyakanlah kepada
sembarang orang di jalan,
untuk apa mereka bekerja?
Jawaban apalagi yang
jamak bila bukan: mencari
uang! Ta-warkanlah suatu
pekerjaan yang melelahkan
badan dan pikiran namun
tidak menghasilkan
uang kepada 5 orang
pengangguran. Adakah
diantara mereka
tanpa basa-basi
segera menyanggupi?
Tawarkanlah suatu proyek
membalik telapak tangan
seharga 1 milyar kepada 5
anggota parle-men. Adakah
diantara mereka malu-
malu menerimanya?
Mentalitas “mencari
uang” telah
sede-mikian mengakar
sehingga para orangtua
selalu menasehatkan
kepada anak-anaknya
–bahkan se-menjak
masih balita- agar tekun
belajar supaya menjadi
orang pintar dan kelak
mudah ...baca selengkapnya |