Jawaban:
Kekristenan mula-mula mewarisi liturgi-liturgi Yahudi, dimana di dalamnya terdapat format-format doa yang bersifat "paten."
Dalam perkembangan kemudian, kekristenan memang berkembang mengikuti kultur-kultur dimana ia tumbuh, sehingga doa-doa mulai disesuaikan.
Komunitas Kristen di Arab menyesuaikan doa-doa dalam Bahasa Arab dengan tetap menjaga format-format doa mula-mula. Sementara, komunitas Kristen Latin, di wilayah-wilayah Romawi, menyesuaikan doa-doanya ke dalam Bahasa Latin.
Demikian juga dengan komunitas-komunitas Kristen lainnya.
Ada beberapa format doa yang hampir sama, tetapi mengalami perubahan Bahasa, misalnya perkataan, "Dalam Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus", "TUHAN Kasihanilah" (Kyrie Eleison), "Haleluyah", "Doa Bapa Kami", dan banyak lagi.
Sampai sekarang, doa yang tetap dijaga formatnya adalah "Doa Bapa Kami" yang karakternya tetap mewarisi Doa-doa Yahudi. |