Terjemahan Septuaginta (LXX) memberi nama Leueitikon atau Leuitikon, demikian juga terjemahan Vulgata (Latin), Leviticus, yang artinya "kitab kaum Lewi." Nama inilah yang menjadi nama populer di kalangan Yahudi Hellenis dan kekristenan mula-mula (band. Ibr. 7:11). Penyebutan ini disebabkan karena banyaknya aturan dalam kitab ini yang mengatur para imam Lewi, terutama masalah kurban, ritus, dan perayaan-perayaan.
Penulis dan Waktu Penulisan
Secara tradisi, kitab ini diyakini sebagai tulisan Musa, sebagaimana pernah Yesus sampaikan ketika mengutip Im. 14:2 (Mat. 8:4). Targum Yonathan juga memiliki keyakinan yang sama. Namun, Targum Yerusalemlah yang memberikan data tahun yang jelas. Menurut Targum Yerusalem, kitab Imamat ditulis sekitar 2514 tahun sesudah penciptaan dunia atau sekitar 1490 tahun sebelum Kristus.
Namun, dalam penelitian modern, dikatakan bahwa kitab Imamat ditulis pada periode pembuangan di Babel (baik sebelum maupun sesudah), yaitu sekitar abad ke-6 SM. Para ahli modern mengatakan bahwa kitab ini secara keseluruhan berasal dari sumber P. Dari penelitian sastra, diyakini bahwa kitab ini tidak ditulis secara sistematis (menurut kronologi maupun tema tertentu) dan tidak ditulis sekaligus, melainkan dari beberapa periode.
Secara keseluruhan kitab Imamat mengandung berbagai unsur sastra, yaitu sastra-sastra sesudah pembuangan Babel, sebelum pembuangan Babel, sastra kuno dari zaman Yehezkiel, hingga sastra paling kuno yang diduga berasal langsung dari zaman Musa.
Karena itu, kemungkinan yang paling bisa diterima adalah kitab ini awalnya bukan berupa satu naskah utuh, melainkan naskah yang terpisah-pisah yang kemudian dikumpulkan dan disalin kembali oleh sumber P. Dalam proses penyalinan kembali ini, tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian bahasa dan penambahan-penambahan untuk kepentingan teologis tertentu.
Hanya saja yang harus diingat bahwa para Rabbi Yahudi sangat berhati-hati dan ketat dalam hal kitab suci. Tradisi Yahudi juga menganut suatu sistem yang dikenal dengan sebutan oral tora, yaitu penyampaian ajaran secara lisan dan turun-temurun. Tradisi ini bertahan hingga periode kekristenan mula-mula, dimana menurut tradisi ini, sesuatu yang disampaikan secara lisan lebih diakui dibanding penyampaian secara tulisan.
Imamat dan Yudaisme
Dalam tradisi Yudaisme, kitab Imamat menjadi pusat atau inti pengajaran para Rabbi. Hukum-hukum yang disebut midrash halakhik yang bersumber dari kitab ini disebut Sifra (memiliki arti yang sama dengan "Alkitab").
Bagi anak-anak kecil yang baru mulai belajar Taurat, harus memulai dari kitab Imamat. Hal ini disebabkan karena sebagian besar hukum Yahudi bersumber dari kitab ini. Berbagai aturan mengenai perayaan-perayaan, aturan pernikahan, keluarga, dan aturan-aturan lainnya banyak terdapat dalam kitab ini.
Aspek penting yang hingga kini dipertahankan dalam tradisi Yudaisme, yang berasal dari kitab Imamat, adalah ajaran tentang keseimbangan antara hukum (mitswot) yang bersifat mengatur relasi manusia dengan YHWH (mitswot vertikal) dan mitswot yang mengatur relasi antar manusia (mitswot horizontal). Kitab Imamat mengajarkan bahwa kedua mitswot haruslah dijalankan bersamaan. Sama pentingnya dan sama validnya.
Kitab Imamat dengan tegas mengajarkan bahwa mengasihi sesama manusia adalah perintah murni dari YHWH, demikian juga setiap tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan sama halnya dengan mencemarkan nama YHWH.
Garis Besar
Karena tidak ditulis secara sistematis, umumnya penafsir membagi kitab ini ke dalam 27 bagian menurut pembagian pasalnya. C.I. Scofield membagi kitab ini ke dalam 9 bagian, namun, pembagian yang lebih baik terdapat dalam New Bible Dictionary, yang membaginya dalam 7 bagian:
1. Hukum Kurban (1:1-7:38)
2. Petunjuk tentang Kemah Pertemuan (8:1-10:20)
3. Hukum tentang Kesucian dan Ketidaksucian (11:1-15:33)
4. Hari Pendamaian atau Yom Kippur (16:1-34)
5. Kumpulan Hukum (17:1-25:55)
6. Janji-janji dan Peringatan-peringatan (26:1-46)
7. Penilaian dan Penebusan (27:1-34)
ke atas