Peristiwa keluaran (dari Mesir) merupakan pusat pengalaman iman Israel. YHWH yang bertindak demi kepentingan mereka bukanlah dewa-dewa dari bangsa-bangsa Timur Dekat Kuno yang tak berarti, yang terputus dari kenyataan, dan ditempatkan pada alam mistis. TUHAN Israel secara dramatis masuk ke dalam lingkup waktu dan bangsa yang riil, seperti yang tertulis dalam Sepuluh Perintah: Akulah YHWH, TUHANmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan (Kel. 20:2). Menyebut nama YHWH berarti membangkitkan gambaran tentang TUHAN yang sepenuhnya terlibat. Dengan menggunakan nama tersebut, Ia mengungkapkan jati diri-Nya. YHWH tanpa peristiwa Keluaran bukan lagi YHWH
Peristiwa keluaran bukan hanya menunjukkan jati diri YHWH, melainkan juga jati diri Israel. Israel mulai dikenal sebagai umat TUHAN justru dari peristiwa Keluaran. Peristiwa Keluaran dengan pengalaman perjanjian antara umat-Nya dengan YHWH merupakan ciri mereka sebagai umat YHWH. Oleh karena itu, peristiwa Keluaran merupakan proses pemilihan: Engkau akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi TUHANmu” (Kel. 6:6).
Berkenaan dengan kitab Keluaran, di Mesir sendiri tidak ditemukan referensi tulisan yang berbicara mengenai peristiwa Keluaran. Hal tersebut tidaklah mengherankan mengingat tulisan-tulisan di Mesir lebih menaruh perhatian pada keagungan dan kehormatan Firaun. Hubungan Musa dengan pemimpn Mesir masih kurang menarik untuk ditulis oleh penulis sejarah Mesir pada waktu itu. Di lain pihak, menurut pandangaan yang umum diterima, apa yang diceritakan di dalam kitab Keluaran merupakan gejala yang umum di dunia Timur Dekat Kuno.
Tulisan Mesir pernah berbicara mengenai Apiru, yang ditulis dalam bahasa Akad (bahasa Semit Selatan), kemungkinan menunjuk pada Habiru. Orang-orang Apiru/Habiru sering digambarkan sebagai bangsa yang terlantar, pengganggu ketentraman, tidak pernah puas. Juga diberitakan bahwa orang-orang pengembara ini menyediakan tenaga kasar untuk membantu pembangunan militer Mesir. Kata Hebrew - Ibrani berasal dari kata “Habiru”. Namun perlu diingat bahwa “Habiru” pada mulanya adalah istilah sosiologis, bukan rumusan etnis.
Mengesankan bahwa istilah “Ibrani” digunakan dalam kitab Keluaran hanya bila ada kaitannya dengan hal tinggal di Mesir dan penindasan yang mereka alami (lih. Kel 2:11). Rupanya terjadi proses asimilasi, nenek moyang bangsa Israel, yang secara bebas pergi ke Mesir, di kemudian hari berasimilasi dengan bangsa Apiru/habiru tadi. Karena nenek moyang bangsa Israel adalah penggembala semi pengembara, hampir dapat dipastikan mereka mengubah cara hidup mereka ketika akhirnya menjadi budak dan pekerja kasar. Juga hampir dapat dipastikan mereka telah masuk-keluar Mesir.
Berdasarkan teks Kitab Suci, tampak ada beberapa rute yang berbeda. Akan tetapi, dari sudut pandang pengalaman iman Israel, hanya ada satu peristiwa Keluaran. Peristiwa Keluaran yang dipimpin oleh Musa dan mencakup juga peristiwa teofani (penampakan TUHAN) di Sinai. Kelompok di bawah pimpinan Musa ini rupanya tidak begitu besar. Hanya saja, karena peristiwa itu selalu direnungkan dan diperingati dalam ibadat dan ditekankan oleh teolog Israel, maka proporsinya menjadi lebih besar. Kelompok kecil itu berkembang, baik dalam jumlah maupun dalam hal peranan. Masalahnya bukan hanya soal perkembangan angka saja, melainkan juga soal persepsi iman. Semua orang Israel merasa terwakili oleh kelompok kecil itu, kelompok yang telah berhasil melepaskan diri dari Mesir dibawah tirani Firaun.
Isi Kitab Keluaran
Kitab Keluaran terdiri atas dua bagian: bagian pertama terdiri dari pasal 1-15 yang menggambarkan mengenai kelepasan bangsa Israel dari tanah Mesir, dan bagian kedua terdiri dari pasal 16-40 yang menggambarkan mengenai Wahyu (pernyataan) TUHAN di Sinai.
Sastra Keluaran
Kitab Keluaran adalah kitab gabungan dari beberapa jenis tulisan yang berkaitan dengan dengan persepsi-persepsi dan sikap-sikap dasar Israel. Dalam tulah-tulah, jelas terdapat kiasan-kiasan yang berasal dari dunia dari dunia legenda. Kisah penyeberangan laut Merah merupakan dramatisasi kisah kepahlawanan. Dalam tata upacara Paskah, efek dari ibadat sangat jelas.
Dalam hukum perjanjian (20:22-23:19) dan hukum para Imam (Pasal 25-31; 35-40) terlihat rekayasa hukum. Dalam 15:1b-18 ada seorang penulis lagu. Keanekaragaman jenis tulisan dalam kitab ini memberi kesaksian tentang keanekaragaman usaha manusia untuk menangkap suatu pengalaman yang sentral dalam hidupnya.
Setidaknya kitab Keluaran diambil dari tiga sumber; sumber J (Yahwis) yang menulis pada abad 10 SM yaitu pada saat pemerintahan Daud dan Salomo mencapai puncak jayanya. Sumber kedua adalah sumber E (Elohis), yang banyak merenungkan kekacauan religius dan sinkretisme pada abad 9-8 SM. Dan sumber yang ketiga adalah sumber P (Priest / Imam), yang memberi gambaran pengharapan pada pembuangan antara abad 7-6 SM.
Tujuan Penulisan
Kitab Keluaran ditulis untuk melukiskan kesulitan-kesulitan orang Israel dari Mesir dan kesetiaan YHWH dalam menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir. YHWH tidak hanya membebaskan mereka dari Mesir, tetapi Ia juga mengadakan perjanjian formal dengan bangsa itu di Gunung Sinai dan mengajari mereka bagaimana harus hidup dan menyembah Dia.
Tema-tema besar; yaitu keselamatan dan penebusan, tidak mungkin dipisahkan dari peristiwa keluaran di Mesir. YHWH adalah Tuhan yang telah menyelamatkan Israel dari situasi yang mengerikan dan memperoleh kebebasan mereka dengan tangan-Nya yang berkuasa. Melalui tulah-tulah dan mujizat, orang Israel mengenal siapa YHWH (6:3), sehingga bukan saja orang Israel yang diajar tetapi orang mesir pun belajar melalui banyak kesukaran bahwa Tuhan Israel adalah “TUHAN” (7:5).
Keluaran Baru – Pembebasan Baru
Kisah keluaran masih tetap berpengaruh hingga kini, terutama di Amerika Selatan (Latin), tempat munculnya teologi pembebasan. Bagi para teolog pembebasan, tugas utamanya adalah membaca kitab suci dengan terang baru, yaitu berdasarkan latar belakang penindasan yang merupakan ciri sejarah Amerika Latin. Menurut mereka, cerita kuno tentang perbudakan dan pembebasan Israel itu tetap relevan pada saat ini.
Kisah itu menunjukkan bahwa pembebasan adalah suatu proses, bukan suatu yang bisa dicapai seketika. Pembebasan adalah keprihatinan manusia yang terus menerus membuka kedok manipulasi terhadap orang lain, dan untuk menawarkan perubahan manusia yang sejati. Kisah keluaran juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan nabi-nabi baru, seperti Musa.
Kitab Suci memperlihatkan tugas nabi itu: menyadarkan orang–orang akan penyebab penderitaan mereka. Nabi-nabi itu harus mengungkapkan tidak adanya kebebasan sejati yang sangat didambakan oleh masyarakat zaman sekarang. Orang seperti Firaun akan selalu ada. Mereka perlu dilepaskan dari kedoknya.
Pada saat yang sama, para nabi harus bebicara soal pengharapan. Mereka dipanggil bukan hanya untuk membawa keluar bangsanya dari tempat penindasan, melainkan juga untuk menyemangati agar mereka meraih tingkat keberadaban yang sejati, di mana kemalangan dan penderitaan dianggap jahat dan harapan senantiasa dapat terpenuhi. Demikian Musa menerobos batas-batas abad 8 SM dan membuat Sabda TUHAN selalu mempunyai dampak baru.
(sumber: “Tafsir Alkitab Perjanjian Lama”, ed. Dianne Bergant, Robert J. Karris, kanisius; “Pengantar Kepada Perjanjian Lama”, J. Blommendaal, BPK Gunung Mulia; “Pengenalan Pentateukh”, Herbert Wolf, Gandum Mas)
ke atas