Artikel
 
Pilih Kategori:
Google

  • Biblika
  • Dari Anda
  • Eksplorasi Alkitab
  • Ensiklopedi Teologi
  • Episcopal Messages
  • Info
  • Kesehatan
  • Khotbah...
  • Midrash
  • Tajuk
  • Semua Artikel
  • Cakrawala
    Kejadian 1:6-8

    Dibaca sebanyak: 852 kali | | kirim ke teman

    Oleh: Yosi Rorimpandei
    Beri nilai artikel ini: bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)

    Sekali lagi kita diperhadapkan pada kebingungan soal pandangan P mengenai alam semesta. Dalam Kejadian 1:6-8 ini P berbicara tentang ‘cakrawala’ yang kemudian disebut ‘langit’ (ay. 8). Tetapi, fungsi cakrawala atau langit di sini sangat bertolak belakang dengan realitas alam semesta yang kini kita ketahui.
    baca lanjutan


    Perhatikan ayat 6 “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” Cakrawala di sini berfungsi untuk “memisahkan air dari air” (mavdil ben mayim lamayim). Sementara, cakrawala yang kita ketahui bukanlah sebagai pemisah air dari air, melainkan langit dimana terdapat awan.

    Lebih jauh, pada ayat 7 dikatakan bahwa cakrawala memisahkan air yang ada di atasnya dengan air yang ada di bawahnya.

    Untuk itu, kita perlu mengetahui latar belakang pemahaman masyarakat kuno mengenai alam semesta, terutama pemahaman masyarakat Babilonia yang paling dominan memberi pengaruh terhadap pemikiran P. Untuk memahami pemahaman masyarakat Babilonia tentang alam semesta, maka sekali lagi kita harus menggali apa yang tertuang dalam naskah Enuma Elish yang memiliki banyak kemiripan dengan naskah P.

    Cakrawala dalam Mitos Babilonia

    Meskipun Babilonia kuno cukup maju dalam hal astronomi dan kosmologi, tetapi ilmu pengetahuan yang berkembang pada waktu itu belumlah sanggup untuk menjelaskan alam semesta sebagaimana yang kini dipahami masyarakat modern.

    Masyarakat kuno Babilonia, hanya membangun teori berdasarkan apa yang mampu dijangkau oleh indra mereka, sementara alam semesta tersusun atas komponen-komponen yang membutuhkan lebih dari sekedar kelima indra biologis manusia.

    Itulah sebabnya, pemahaman masyarakat kuno Babilonia akan alam semesta sangatlah sederhana. Pemahaman yang paling modern pada periode itu kini menjadi pemahaman yang paling tidak bisa diterima logika manusia modern. Meski demikian, pemahaman inilah yang justru menjadi pemahaman global pada waktu itu, terutama di lingkungan masyarakat Semit.

    Sebagai kerajaan adi daya, tentu saja sangatlah wajar jika ilmu pengetahuan mereka mendominasi peradaban manusia, sama halnya ilmu pengetahuan dan teknologi Barat di abad sekarang ini.

    Bagaimana masyarakat kuno Babilonia memahami alam semesta? Secara sederhana, pemahaman mereka dapat dilihat pada gambar berikut:

    Perhatikan gambar di atas. No. 1 adalah air yang berada di atas cakrawala. Di atas air inilah terdapat surga tempat para dewa bertahta atau dalam mitos Cina disebut kerajaan langit. No. 2 adalah cakrawala yang memisahkan antara air yang di atas dan bumi. Karena harus menopang air yang ada di atasnya, maka cakrawala ini ditopang oleh tiang penyangga (no. 3). Dalam mitos Babilonia, jika tiang penyangga ini hancur, maka langit akan runtuh (Ayb. 26:11). Dalam beberapa mitos dikatakan bahwa tiang penyangga langit itu adalah gunung-gunung yang sangat tinggi.

    Di cakrawala bergelantungan benda-benda penerang (Kej. 1:17), yaitu matahari (no. 7), bulan (no. 8), dan bintang-bintang (no. 9). Selain itu terdapat jendela-jendela kecil atau dalam alkitab terjemahan LAI diterjemahkan tingkap-tingkap langit (Kej. 7:11; 8:2; 2Raj. 7:2; dst). Jika jendela-jendela itu dibuka, maka akan turun hujan, sebab air yang di atas cakrawala tumpah ke bumi.

    No.4 adalah dataran dimana manusia, tumbuhan, dan binatang darat hidup. No.5 adalah air di laut, samudera, dan air di bawah bumi.

    Apabila kita membaca keseluruhan naskah Perjanjian Lama (PL), konsep pemahaman kuno ini jelas menjadi pemahaman yang umum di kalangan masyarakat Ibrani (band. Kej. 7:11 dab, Mzm. 104:2,13; 148:4; 2Raj. 7:2, 19). Hal ini tentunya merupakan hal yang wajar, sebab pada masa itu belum dikenal eksplorasi ruang angkasa seperti pada abad ke-19 hingga sekarang ini.

    Pada waktu itu, manusia di seluruh dunia masih meyakini bahwa mataharilah yang bergerak. Mereka belum mengenal rotasi bumi dan proses terbentuknya hujan. Apa yang mereka ketahui hanyalah apa yang bisa mereka lihat. Mereka melihat matahari bergerak dari timur ke barat, maka mereka yakin mataharilah yang berpindah tempat. Mereka melihat hujan turun dari langit, maka mereka pun yakin bahwa di atas langit terdapat kumpulan air yang sangat banyak.

    Sekiranya Nikolaus Kopernikus tidak mengemukakan teori bahwa tata surya berpusat pada matahari (heliosentris), maka mungkin sampai sekarang manusia masih tetap meyakini bahwa mataharilah yang bergerak dari timur ke barat dan bumi menjadi pusat tata surya (geosentris). Demikian juga jika teori tentang hujan, teropong bintang dan eksplorasi ruang angkasa tidak pernah ditemukan manusia, maka anggapan bahwa di atas langit terdapat air, masih tetap melekat dalam benak manusia.

    Cakrawala dalam Teologi P

    Kata ‘cakrawala’ dalam naskah Ibrani menggunakan kata raqiya’ yang berakar dari kata raqa’ (menumbuk atau menempa bumi dengan kaki). Kata raqiya’ juga dapat berarti “bentangan,” sebab dalam pemahaman kuno, langit dilihat seperti bentangan tirai yang indah.

    Para ahli PL berdebat tentang pandangan P. Ada yang melihat uraian P sebagai suatu karya sastra, dimana ia hanya menggunakan bahasa simbolis untuk memudahkan audiensnya memahami tulisannya, tetapi ada juga yang melihat bahwa P, sama halnya masyarakat Babilonia dan Ibrani pada umumnya kala itu, memang meyakini bahwa cakrawala itu adalah pemisah antara air di bumi dengan air di atasnya.

    Bagaimana pun, para ahli melihat bahwa ay. 6-8 ini bukanlah berbicara atau menekankan tentang cakrawala itu sendiri, melainkan pada pemisahan air. Ini untuk menunjukkan bahwa Elohim berkuasa atas air, baik di lautan maupun di langit (baca: hujan).

    Penekanan utama P untuk menarasikan penciptaan sekali lagi bukan pada kronologi historisnya. P tidak punya kemampuan untuk itu. Aspek penting yang diangkat oleh P adalah persoalan otoritas Elohim dan keyakinannya pada monoteisme. Sehingga, ketika bangsa-bangsa lain meyakini bahwa ada kekuatan lain di dalam air (katakanlah dewa air) dan di atas langit (dewa langit), maka P menegaskan bahwa kekuatan itu hanya satu, yaitu Elohim. DIA-lah yang berkuasa atas langit dan seluruh alam semesta.

    Dengan kata lain bahwa kita bisa saja menyalahkan atau mengoreksi P atas kekeliruan pemahaman dia tentang alam semesta, tetapi pemahaman teologisnya tentang alam semesta merupakan rujukan yang tidak bisa kita katakan menyimpang. Sebab, sekiranya P hidup pada dunia modern, dimana segala teori tentang alam semesta telah dibukukan bahkan menjadi konsumsi anak-anak pada tingkat pendidikan dasar, maka kesimpulan teologis P akan tetap sama. Yang berubah hanyalah pemahamannya tentang bentuk alam semesta ini.

    Cakrawala itu Baik?

    Pada penciptaan hari pertama, P menggunakan kalimat “Elohim melihat bahwa terang itu baik” (ay. 4), tetapi pada penciptaan hari kedua, kalimat ini tidak muncul. Kalimat ini muncul kembali pada penciptaan hari ketiga. Mengapa?

    Dalam beberapa literatur Yahudi dikatakan bahwa pada penciptaan hari kedua inilah malaikat-yang kemudian menjadi iblis-jatuh ke dalam upaya pemberontakan kepada Elohim. Namun, pemahaman ini hanyalah berangkat dari mitologi semata. Penafsir Yahudi lainnya, yaitu Yarkhi, mengatakan bahwa kalimat tersebut tidak digunakan pada hari kedua karena pekerjaan Elohim terhadap air belumlah selesai, melainkan baru dimulai.

    Karya ini baru sempurna pada hari ketiga. Itulah sebabnya, kalimat ini disebutkan dua kali pada hari ketiga. Hal ini sekaligus untuk menunjukkan kembali bahwa penekanan karya penciptaan pada hari kedua bukanlah pada cakrawalanya, melainkan pada pemisahan air [oyr79].


    ke atas
    Masukkan Username/Email dan Password Anda
    untuk login ke situs ini

    Username/Email:

    Password:

    Daftar | Lupa password

    Shalom 38.107.191.102!

    Jika Anda merasa bahwa artikel ini penting untuk dibagikan ke teman Anda, silakan kirim ke teman Anda

    Atau beri nilai artikel ini:
    bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)
    Kategori Artikel: Eksplorasi Alkitab
    Dimasukkan pada: 01 Ags 2006 oleh: oyr79
    Terakhir dimodifikasi pada: 01 Ags 2006

    Tanggapan Pembaca:

    Kirim Tanggapan

    oyr79 (25 Feb 2007):
    Octafred Yosi RShalom Hairy, artikel-artikel baru kami diperuntukkan bagi anggota yang sudah terdaftar. Silakan LOGIN untuk bisa membaca artikel secara lengkap


    hairy (02 Jan 2007):
    hairy Lawisanwau.. sangat baik.. sekiranya artikel ini boleh di poskan kepada saya lagi sempurna..


    SILAKAN LOGIN UNTUK BISA MEMBERIKAN KOMENTAR


    << sebelumnya | berikutnya >>
    total: 2 data

     
    LOGIN: Username/Email: Password:
    Jika Anda memiliki masalah, silakan hubungi salah satu admin kami yang online:
    mi_anokhi Kirim pesan oyr79 Kirim pesan varry Kirim pesan