Perhatikan ayat 6 “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan
air dari air.” Cakrawala di sini berfungsi untuk “memisahkan air dari air” (
mavdil
ben mayim lamayim). Sementara, cakrawala yang kita ketahui bukanlah sebagai
pemisah air dari air, melainkan langit dimana terdapat awan.
Lebih jauh, pada ayat 7 dikatakan bahwa cakrawala memisahkan air yang ada di
atasnya dengan air yang ada di bawahnya.
Untuk itu, kita perlu mengetahui latar belakang pemahaman masyarakat kuno
mengenai alam semesta, terutama pemahaman masyarakat Babilonia yang paling
dominan memberi pengaruh terhadap pemikiran P. Untuk memahami pemahaman
masyarakat Babilonia tentang alam semesta, maka sekali lagi kita harus menggali
apa yang tertuang dalam naskah Enuma Elish yang memiliki banyak kemiripan
dengan naskah P.
Cakrawala dalam Mitos Babilonia
Meskipun Babilonia kuno cukup maju dalam hal astronomi dan kosmologi, tetapi
ilmu pengetahuan yang berkembang pada waktu itu belumlah sanggup untuk
menjelaskan alam semesta sebagaimana yang kini dipahami masyarakat modern.
Masyarakat kuno Babilonia, hanya membangun teori berdasarkan apa yang mampu
dijangkau oleh indra mereka, sementara alam semesta tersusun atas
komponen-komponen yang membutuhkan lebih dari sekedar kelima indra biologis
manusia.
Itulah sebabnya, pemahaman masyarakat kuno Babilonia akan alam semesta
sangatlah sederhana. Pemahaman yang paling modern pada periode itu kini menjadi
pemahaman yang paling tidak bisa diterima logika manusia modern. Meski demikian,
pemahaman inilah yang justru menjadi pemahaman global pada waktu itu, terutama
di lingkungan masyarakat Semit.
Sebagai kerajaan adi daya, tentu saja sangatlah wajar jika ilmu pengetahuan
mereka mendominasi peradaban manusia, sama halnya ilmu pengetahuan dan teknologi
Barat di abad sekarang ini.
Bagaimana masyarakat kuno Babilonia memahami alam semesta? Secara sederhana,
pemahaman mereka dapat dilihat pada gambar berikut:

Perhatikan gambar di atas. No. 1 adalah air yang berada di atas cakrawala. Di
atas air inilah terdapat surga tempat para dewa bertahta atau dalam mitos Cina
disebut kerajaan langit. No. 2 adalah cakrawala yang memisahkan antara air yang
di atas dan bumi. Karena harus menopang air yang ada di atasnya, maka cakrawala
ini ditopang oleh tiang penyangga (no. 3). Dalam mitos Babilonia, jika tiang
penyangga ini hancur, maka langit akan runtuh (Ayb. 26:11). Dalam beberapa mitos
dikatakan bahwa tiang penyangga langit itu adalah gunung-gunung yang sangat
tinggi.
Di cakrawala bergelantungan benda-benda penerang (Kej. 1:17), yaitu matahari
(no. 7), bulan (no. 8), dan bintang-bintang (no. 9). Selain itu terdapat
jendela-jendela kecil atau dalam alkitab terjemahan LAI diterjemahkan
tingkap-tingkap langit (Kej. 7:11; 8:2; 2Raj. 7:2; dst). Jika jendela-jendela
itu dibuka, maka akan turun hujan, sebab air yang di atas cakrawala tumpah ke
bumi.
No.4 adalah dataran dimana manusia, tumbuhan, dan binatang darat hidup. No.5
adalah air di laut, samudera, dan air di bawah bumi.
Apabila kita membaca keseluruhan naskah Perjanjian Lama (PL), konsep
pemahaman kuno ini jelas menjadi pemahaman yang umum di kalangan masyarakat
Ibrani (band. Kej. 7:11 dab, Mzm. 104:2,13; 148:4; 2Raj. 7:2, 19). Hal ini
tentunya merupakan hal yang wajar, sebab pada masa itu belum dikenal eksplorasi
ruang angkasa seperti pada abad ke-19 hingga sekarang ini.
Pada waktu itu, manusia di seluruh dunia masih meyakini bahwa mataharilah
yang bergerak. Mereka belum mengenal rotasi bumi dan proses terbentuknya hujan.
Apa yang mereka ketahui hanyalah apa yang bisa mereka lihat. Mereka melihat
matahari bergerak dari timur ke barat, maka mereka yakin mataharilah yang
berpindah tempat. Mereka melihat hujan turun dari langit, maka mereka pun yakin
bahwa di atas langit terdapat kumpulan air yang sangat banyak.
Sekiranya Nikolaus Kopernikus tidak mengemukakan teori bahwa tata surya
berpusat pada matahari (heliosentris), maka mungkin sampai sekarang manusia
masih tetap meyakini bahwa mataharilah yang bergerak dari timur ke barat dan
bumi menjadi pusat tata surya (geosentris). Demikian juga jika teori tentang
hujan, teropong bintang dan eksplorasi ruang angkasa tidak pernah ditemukan
manusia, maka anggapan bahwa di atas langit terdapat air, masih tetap melekat
dalam benak manusia.
Cakrawala dalam Teologi P
Kata ‘cakrawala’ dalam naskah Ibrani menggunakan kata raqiya’ yang
berakar dari kata raqa’ (menumbuk atau menempa bumi dengan kaki). Kata
raqiya’ juga dapat berarti “bentangan,” sebab dalam pemahaman kuno, langit
dilihat seperti bentangan tirai yang indah.
Para ahli PL berdebat tentang pandangan P. Ada yang melihat uraian P sebagai
suatu karya sastra, dimana ia hanya menggunakan bahasa simbolis untuk memudahkan
audiensnya memahami tulisannya, tetapi ada juga yang melihat bahwa P, sama
halnya masyarakat Babilonia dan Ibrani pada umumnya kala itu, memang meyakini
bahwa cakrawala itu adalah pemisah antara air di bumi dengan air di atasnya.
Bagaimana pun, para ahli melihat bahwa ay. 6-8 ini bukanlah berbicara atau
menekankan tentang cakrawala itu sendiri, melainkan pada pemisahan air. Ini
untuk menunjukkan bahwa Elohim berkuasa atas air, baik di lautan maupun
di langit (baca: hujan).
Penekanan utama P untuk menarasikan penciptaan sekali lagi bukan pada
kronologi historisnya. P tidak punya kemampuan untuk itu. Aspek penting yang
diangkat oleh P adalah persoalan otoritas Elohim dan keyakinannya pada
monoteisme. Sehingga, ketika bangsa-bangsa lain meyakini bahwa ada kekuatan lain
di dalam air (katakanlah dewa air) dan di atas langit (dewa langit), maka P
menegaskan bahwa kekuatan itu hanya satu, yaitu Elohim. DIA-lah yang
berkuasa atas langit dan seluruh alam semesta.
Dengan kata lain bahwa kita bisa saja menyalahkan atau mengoreksi P atas
kekeliruan pemahaman dia tentang alam semesta, tetapi pemahaman teologisnya
tentang alam semesta merupakan rujukan yang tidak bisa kita katakan menyimpang.
Sebab, sekiranya P hidup pada dunia modern, dimana segala teori tentang alam
semesta telah dibukukan bahkan menjadi konsumsi anak-anak pada tingkat
pendidikan dasar, maka kesimpulan teologis P akan tetap sama. Yang berubah
hanyalah pemahamannya tentang bentuk alam semesta ini.
Cakrawala itu Baik?
Pada penciptaan hari pertama, P menggunakan kalimat “Elohim melihat
bahwa terang itu baik” (ay. 4), tetapi pada penciptaan hari kedua, kalimat ini
tidak muncul. Kalimat ini muncul kembali pada penciptaan hari ketiga. Mengapa?
Dalam beberapa literatur Yahudi dikatakan bahwa pada penciptaan hari kedua
inilah malaikat-yang kemudian menjadi iblis-jatuh ke dalam upaya pemberontakan
kepada Elohim. Namun, pemahaman ini hanyalah berangkat dari mitologi
semata. Penafsir Yahudi lainnya, yaitu Yarkhi, mengatakan bahwa kalimat tersebut
tidak digunakan pada hari kedua karena pekerjaan Elohim terhadap air
belumlah selesai, melainkan baru dimulai.
Karya ini baru sempurna pada hari ketiga. Itulah sebabnya, kalimat ini
disebutkan dua kali pada hari ketiga. Hal ini sekaligus untuk menunjukkan
kembali bahwa penekanan karya penciptaan pada hari kedua bukanlah pada
cakrawalanya, melainkan pada pemisahan air [oyr79].
ke atas