“Gara-gara berpose dengan
swimsuit dalam ajang Miss Universe 2006 di
Los Angeles, California, Nadine Chandrawinata diadukan oleh Front Pembela Islam
(FPI) ke Polda Metro Jaya. Namun, menurut kabar yang beredar, kejengkelan FPI
bukan semata karena pose-pose Nadine, melainkan karena keakrabannya dengan
Anastacia Entin, Miss Israel, yang juga tengah mengikuti ajang Miss Universe
tersebut.
baca lanjutanAkibat ulah FPI itu, sejumlah warga di kota Bersehati, Manado, menjadi geram.
Mereka memrotes tindakan FPI yang dianggap terlalu berlebihan itu. Bukan hanya
itu, sebagai bentuk protes mereka, mereka mengumandangkan isu mendukung serangan
Israel atas Hamas di Palestina dan Hizbullah di Libanon. Mereka bahkan
menganggap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) terlalu bersikap
kompromi saat mengutuk agresi militer Israel itu.”
Lima peristiwa yang terjadi di empat lokasi yang berbeda (Los
Angeles-Jakarta-Manado-Timur Tengah) itu dalam sekejap menjadi satu rangkaian
narasi yang saling terkait. Suatu hal yang dulunya sulit untuk terjadi.
Inilah dampak dari globalisasi dan modernisasi yang tengah memengaruhi dunia
secara global. Batas geografis antar bangsa semakin kabur, sehingga setiap
peristiwa di belahan bumi ini bisa dengan mudah menjadi bahan perbincangan
sampai ke kedai-kedai kopi malam di sudut kota Jakarta.
Globalisasi dan modernisasi pun ikut memberi andil pada ranah agama. Tampilan
radikal dan fundamental dari suatu agama-langsung maupun tidak langsung-telah
memancing ‘keinginan’ gerakan lain untuk meng-counter-nya, bahkan suatu
ketika, bisa jadi akan lebih radikal. Bedanya, yang satu nampak menonjol dan
yang lain belum. Atau bisa jadi ‘perlawanan’-nya dimanifestasikan pada bentuk
dan gerakan lain, tetapi sama-sama pada titik ekstrim.
Semaraknya keberagamaan bercorak ‘liberal’ dan ‘esoteris’ (pengolahan
kedalaman batin) dapat dilihat sebagai reaksi ‘perlawanan’ atau counter
dua arah dari fenomena radikalisasi agama belakangan ini.
Keduanya memang tak perlu dipandang dikotomis. Justu momen ini dapat menjadi
refleksi serius bagi umat beragama, apa sebenarnya esensi peran dan fungsi
sebuah agama bagi manusia.
Dalam sebuah Midrash Ibrani dikatakan bahwa manusia dibekali dua potensi
dasar yang di dalamnya manusia diberi kebebasan untuk “menjadi”, yaitu: potensi
“binatang” dan “malaikat”.
Potensi yang pertama memungkinkan manusia untuk bertindak liar tanpa
terkendali, sementara potensi yang kedua menjadikan dirinya sebagai mahluk YHWH
yang taat kepada Sang Pencipta.
Agama, hadir ke tengah-tengah manusia sebagai media ‘stabilisator’ agar
manusia tetap dalam kemanusiaannya, tidak terjebak pada salah satunya. Sebab,
dalam Midrash itu dikatakan, bahwa YHWH menghendaki manusia sebagai mahluk yang
bebas tetapi sanggup mengendalikan dirinya dalam kebebasannya.
Karenanya, jika agama justru tampil menjadi fasilitator atau inspirator bagi
kekerasan dan kejahatan pemeluknya terhadap sesamanya, saat itulah agama telah
ikut menebar potensi ‘binatang’ pada manusia dan telah kehilangan pesan
dasarnya. Sama halnya jika agama hanya dijadikan ‘alat transportasi’
kesalehan/kekudusan pribadi demi hidup setelah mati, mengabaikan peduli dan
apreasiasi aktif pada hidup hari ini, maka agama telah menebar potensi
‘malaikat’ pada pemeluknya.
Jika demikian, manusia tak akan pernah bisa melebihi keduanya, padahal kodrat
manusia oleh YHWH dicipta sempurna dengan menambahkan padanya kelebihan; akal
pikiran dan nafsu. Dengan modal ini manusia memiliki ambisi dan kemampuan untuk
selalu lebih baik, dan-yang paling penting-manusia mampu membedakan antara
kebaikan dan keburukan, pencerdasan dan kebodohan! [JRC]
ke atas