Karenanya, P menampilkan
Elohim sebagai TUHAN yang tetap aktif dalam setiap bagian sejarah. Ketika dewa-dewa pencipta menyerahkan tugas pemeliharaan kepada dewa-dewa pemelihara, maka
Elohim tetap dalam tugas-NYA, tidak saja sebagai Pemelihara, tetapi juga Pencipta.
Dengan kata lain, penciptaan tidak serta-merta berhenti ketika P mengatakan bahwa Elohim berhenti pada hari ketujuh. Untuk memahami konsep ini, marilah kita melihat lebih ditail babakan-babakan penciptaan dari hari pertama hingga hari ketujuh.
Dalam Eksplorasi Alkitab edisi ini, saya ingin membahas khusus mengenai ayat 3, “ Berfirmanlah TUHAN: ‘Jadilah terang.' Lalu terang itu jadi. ” Dalam teks Ibrani, ayat ini berbunyi, “ wayyomer Elohim yehi or wayehi-or .”
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menerjemahkan ayat ini secara harafiah, sehingga tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia. Dalam kaidah Bahasa Indonesia, kata kerja seharusnya mengikuti subyek, sehingga ayat ini mestinya diterjemahkan, “TUHAN berfirman, ‘Jadilah terang!' Lalu terang itu jadi.”
Wayyomer Elohim
Kata wayyomer berakar dari kata amar dalam Bahasa Ibrani. Arti dari kata ini adalah “berkata” atau “berfirman.” Banyak penafsir mengidentikkan amar dengan kata logos dalam Bahasa Yunani. Padahal, kata amar dalam Bahasa Ibrani memiliki karakteristik yang berbeda dengan logos dalam Bahasa Yunani.
Jika logos dapat berfungsi sebagai nomina (kata benda), maka amar tidak demikian. Amar selalu muncul sebagai verba (kata kerja) dalam Bahasa Ibrani. Dengan demikian, amar tidak merujuk kepada suatu oknum ataupun persona tertentu, melainkan ekspresi Elohim itu sendiri.
Tafsiran-tafsiran klasik selalu mengidentikkan amar dengan logos demi mengesahkan pandangan mereka mengenai Sang Firman ( ho Logos ) yang disebutkan dalam Injil Yohanes. Pandangan ini, menurut Claus Westermann, pakar tafsir Perjanjian Lama dari Universitas Heidelberg, sebagai bentuk ‘salah kaprah' mengenai konsep ‘ wayyomer Elohim .'
Perhatikanlah terjemahan Septuaginta (LXX) terhadap ayat ini. Dalam Septuaginta diterjemahkan, “ kai eipen ho Theos genêthêtô fôs kai egeneto fôs .” Tidak ada kata logos di sini, yang ada adalah eipen (berkata). Demikian juga dalam Vulgata, tidak menerjemahkan kata amar dengan kata vox (yang seakar dengan kata verbum ), tetapi dixitque (bandingkan kata dicto yang bisa diartikan “dikte”).
Jadi, P tidak sedang berbicara tentang ‘ creation by word ' (penciptaan dengan kata-kata), melainkan ‘ creation by speech ' (penciptaan dengan berkata-kata). Lebih tepat lagi, ini adalah proses penciptaan dengan ‘perintah.' Perintah itu berasal dari Elohim dan bersifat kreatif. Perintah yang kreatif itu adalah produk dari ‘pikiran' Elohim .
Ketika berbicara tentang ‘pikiran' Elohim , barulah kita berbicara tentang davar , bukan lagi amar . Dalam konteks inilah seharusnya kita berbicara tentang Logos , yaitu ‘pikiran' Elohim yang melahirkan amar (perintah). Dengan cara berpikir ini juga maka kita menepis anggapan Arius bahwa Logos lebih rendah dari Theos .
Yehi... Wayehi...
Kata yehi merupakan bentuk lain dari kata haya (‘ada' atau ‘menjadi'). Dalam konteks ini, yehi merupakan bentuk imperatif (perintah). Persoalannya adalah siapa yang diperintah? Elohim tidak mungkin memerintahkan diri-NYA sendiri. Hendaknya, perintah ini juga tidak dipahami sama seperti abrakadabra dalam dongeng anak-anak.
Yehi... wayehi... (jadilah... maka jadilah...) menunjukkan bahwa dalam perintah itu ada tindakan. Artinya, kalimat ini mengawali sekaligus menjalankan suatu ide yang ada dalam ‘pikiran' Elohim . Karena itu, Elohim dikatakan sebagai TUHAN yang aktif. DIA tidak sekedar berkata-kata atau memerintah, tetapi IA juga melaksanakan.
Dan karena adanya tindakan aktif itu, maka kita tidak bisa melihat ini sebagai bentuk penciptaan dari tidak ada menjadi ada ( creatio ex nihilo ), melainkan dari yang tidak kelihatan menjadi kelihatan ( creatio ex invisibilibus , Ibr. 11:3). Artinya, Elohim membuat segala sesuatu menjadi memiliki fungsi dari ketiadaan fungsi sama sekali.
Or
Dari pemahaman itu barulah kita bisa menggali lebih jauh makna kata ‘ or ' (terang). Mengapa or menjadi awal proses penciptaan itu?
Kita telah membahas dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya bahwa proses awal penciptaan itu dimulai dengan keadaan yang kacau ( thohu wavohu ). Kekacauan itu disebabkan oleh kegelapan ( khosekh ) yang menutupi bumi.
Adanya kata penghubung “ we- ” pada awal ayat 3 ini menunjukkan bahwa ayat ini masih merupakan kesatuan utuh dengan ayat-ayat sebelumnya. Karenanya, ayat ini hendaklah dipahami sebagai pelengkap dari apa yang diceritakan pada ayat 1 dan 2.
Dengan kata lain, penciptaan or (terang) adalah implikasi dari kekuatan ‘angin' Elohim ( Ruakh Elohim ) yang aktif dan kreatif, yang mengerami dunia ketika dunia berada dalam kegelapan. Karena kegelapan secara aktif juga menghisap dunia kepada kekacauan (baca: chaos ), maka Elohim bekerja sebaliknya. Ia mengubah kekacauan itu menjadi keteraturan. Itulah awal penciptaan.
Dalam Bahasa Ibrani, or tidaklah sekedar berarti “terang.” Ia juga bisa diartikan “api, panas, petir, dan sebagainya.” Di sini P menjawab pertanyaan kelompok politeis tentang matahari, bulan, bintang, petir, api, dan berbagai elemen alam yang dianggap memberikan terang, cahaya, dan panas. Bagi P, matahari, bulan, bintang, petir, api, dan elemen-elemen alam itu sesungguhnya bukanlah or (terang).
Semuanya itu hanyalah benda-benda alam yang walaupun tidak ada, sama sekali tidak akan memadamkan or itu sendiri, sebab or adalah hasil kreasi Elohim yang mula-mula. Ia mengatasi segala elemen alam sama halnya ia mengatasi khosekh .
Jadi, bukan matahari, bulan, bintang, petir, api, atau elemen alam tertentu yang menghasilkan or , tetapi sebaliknya, or yang membungkus elemen-elemen alam itu sehingga mereka tampak bercahaya. Tanpa or , maka elemen-elemen alam itu tak ada bedanya dengan benda-benda alam lainnya.
Makna Teologis
Elohim adalah TUHAN yang aktif dan kreatif. IA senantiasa hadir dalam kehidupan setiap manusia. IA terus-menerus mencipta dan memelihara kita dengan perintah-perintah-NYA. Karya aktif dan kreatif-NYA-lah yang membuat hidup kita senantiasa diperbarui dan menjadi berkat bagi yang lain.
Rahasia pembaruan itu adalah apabila kita tunduk pada perintah-perintah-NYA. Dengan begitu, kita akan diberi-NYA ‘ or ' (terang) untuk bercahaya, sama seperti Kristus adalah Terang. Itulah sebabnya, Yesus berkata “Kamu adalah terang dunia.” Terang yang tidak mungkin padam selama kita bersandar pada Sumber Terang itu sendiri.
Terang yang akan senantiasa membuat kita bersyukur kepada-NYA oleh karena kesadaran dalam diri kita, bahwa sesungguhnya kita bukan siapa-siapa. Terang itu yang membuat kita menjadi bercahaya, bukan kita yang membuat terang itu bercahaya. Semuanya untuk kemuliaan Bapa, Sang Pencipta Terang.
“ Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga ” (Mat. 5:16) q
ke atas