Artikel
 
Pilih Kategori:
Google

  • Biblika
  • Dari Anda
  • Eksplorasi Alkitab
  • Ensiklopedi Teologi
  • Episcopal Messages
  • Info
  • Kesehatan
  • Khotbah...
  • Midrash
  • Tajuk
  • Semua Artikel
  • Dari “Benturan Peradaban” Menuju “Dialog Otoritas”

    Dibaca sebanyak: 336 kali | | kirim ke teman
    Beri nilai artikel ini: bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)

    Setiap peradaban dalam sebuah bangsa atau negara pasti memiliki sejarah, falsafah dan tradisi yang ikut membentuk karakter serta watak manusianya. Istilah peradaban “Timur” dan “Barat” saat ini sudah tidak dapat lagi dibatasi sekedar pada makna geografis, politis, apalagi teologis (agama) semata... Namun, tidak dapat dipungkiri keduanya memiliki akar tradisi, filosofi dan orientasi yang berbeda.
    baca lanjutan


    Masa kegelapan peradaban “Barat” diakhiri dengan lahirnya masa “Pencerahan” yang mendorong lahirnya sebuah konsepsi pemikiran dan paradigma yang menempatkan “rasionalitas” di atas segala-galanya. Singkatnya, ruh inilah yang kemudian menjadikan tradisi “Barat” terdepan dalam penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu pilar utama yang menopang kemajuan itu adalah kecanggihan metodologi pengetahuan yang melingkupi segala segi kehidupan, termasuk dalam memandang/memahami Kitab Suci dan Tuhan. Segala sesuatu menjadi “benar” jika dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan metodologis (?).

    Sementara dalam tradisi “Timur” orientasi puncak segala sesuatu lebih didasarkan pada “nilai”, kearifan, harmoni dan kebijaksaan (wisdom). Pengakuan hubungan manusia dengan Tuhan diwujudkan dengan cara pengabdian yang tulus kepada seluruh perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya yang termaktub dalam kitab suci-Nya. Hidup di dunia dimaknai sebagai ladang dan jembatan menuju kehidupan yang lebih abadi, setelah jasad mati. Ketaatan dan kepatuhan pada Tuhan juga diwujudkan dengan kasih yang nyata kepada sesama dan alam semesta dengan meneladani para Nabi, Rasul dan manusia pilihan Tuhan. Semakin bernilai dan bermanfaat hidup manusia di dunia akan mempermudah jalan menuju janji Tuhan atas kebahagiaan dan kemuliaan di akhirat kelak yang melebihi apapun dari yang ada di dunia.

    Dalam semangat ini, Kitab Suci yang berisi Firman Tuhan dan bersifat transenden (tak terbatas) sebagai sumber nilai, etika, hukum dan filosofis hidup dipandang dan dipahami sebagai “barang jadi”, yang ‘tabu’ untuk distudi dan dikritisi oleh manusia yang penuh dengan keterbatasan (immanen). Padahal, kehidupan manusia dengan segala kompleksitas persoalannya terus berubah, menuntut penyesuaian dan sangat jauh berbeda dari saat Kitab Suci itu diturunkan pertama kali.

    Ketika masing-masing “Peradaban” menutup diri (eksklusif) dan merasa “cukup diri” apalagi merasa lebih unggul dibanding yang lain, sangat meungkin akan menjadi lahan subur bagi munculnya sebuah klaim kebenaran sempit dan pandangan standar ganda. “Bagaimanapun kamilah yang paling benar, di luar kami pasti salah?” “Kami lebih maju dan beradab, di luar kami masih ‘Tradisional’ dan ‘Barbarian”. Implikasi akibatnya, pertama, akan terjadi benturan abadi baik, tradisi, budaya, ideologi maupun peradaban. Kedua, seseorang atau sebuah bangsa mudah kehilangan kepekaan dan sensitifitasnya tehadap “nilai”, kearifan, keyakinan dan kepercayaan orang lain.

    Bagaimana menjembatani benturan abadi di atas? Dialog, adalah salah satu jawabannya. Di satu sisi, ”Barat” dengan kecanggihan metodologinya menempatkan dan menyelidiki kitab suci setara dengan meneliti kitab-kitab lain seperti buku sastra, filsafat, sejarah, bahasa dst. Kitab suci menjadi objek yang dapat diteliti dengan seobjektif mungkin, akibatnya kerugma (pesan-pesan hakiki Tuhan) hampir-hampir menjadi kering, sebab kitab suci telah kehilangan makna ‘otoritasnya’.

    Di sisi lain, dalam tradisi “Timur” demi mempertahankan nilai, kearifan dan kebijaksanaan, subjektifitas pribadi lebih menonjol yang akhirnya justru menutup kekayaan kerugma kitab suci. “Otoritas” Kitab Suci jauh lebih tinggi dibanding akal manusia. Seringkali terdapat pemahaman bahwa kitab suci adalah final dan selesai, manusia tinggal melaksanakan saja.

    Karena itulah penting merumuskan sebuah ”Dialog Otoritas” sebagai jembatan dan ‘sintesis’ untuk mendamaikan keduanya. Kekayaan kerugma kitab suci hanya dapat dijumpai dan muncul jika ada kesedian dan keberanian cukup untuk menyelidiki atau studi ilmiah yang bersifat metodologis. Namun, tidak boleh diabaikan bahwa nilai dan kearifan terdalam dalam kitab suci bisa tetap otentik, jika kita masih meyakini dan percaya bahwa bagaimanapun juga itu adalah “Kitab Suci” yang berisi firman Tuhan!

    Dengan kata lain, batas persoalan cara pandang “Barat” dan “Timur” terletak pada perbedaan perspektif dan peletakkan nilai “otoritatif’ dari kitab suci itu sendiri. Jika sintesis ini dapat dipahami, maka masing-masing akan dapat mengerti betapa “keunggulan” dan “keberadaban” sebuah bangsa bukan ditentukan pada kemajuan apa yang telah capainya, tetapi lebih pada bagaimana menggunakan hasil “kemajuan” itu bernilai bagi kemaslahatan umat manusia tanpa mengabaikan harkat, martabat dan hak manusia lain.

    Prinsipnya, atas nama apapun (demokrasi, kebebasan, kesetaraan, pluralisme....dst ) tidak berhak seorang manusia mengabaikan, menindas dan menghina keyakinan, kepercayaan dan nilai orang lain!

    Namun, penting dicatat, segala kemarahan dan sikap penolakan tentu saja mesti dilandasi dengan etika dan nilai-nilai yang tidak merusak keagungan nilainya sendiri. Sikap Barbarian, tradisi “Viking-ian”, seyogyanya tidak dibalas dengan sikap yang sama, disitulah perbedaan kita dari mereka (JRI).
    ke atas
    Masukkan Username/Email dan Password Anda
    untuk login ke situs ini

    Username/Email:

    Password:

    Daftar | Lupa password

    Shalom 38.107.191.104!

    Jika Anda merasa bahwa artikel ini penting untuk dibagikan ke teman Anda, silakan kirim ke teman Anda

    Atau beri nilai artikel ini:
    bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)
    Kategori Artikel: Tajuk
    Dimasukkan pada: 25 Feb 2006 oleh: oyr79
    Terakhir dimodifikasi pada: 25 Feb 2006

    Tanggapan Pembaca:

    Kirim Tanggapan

    Belum ada tanggapan...

    SILAKAN LOGIN UNTUK BISA MEMBERIKAN KOMENTAR


    << sebelumnya | berikutnya >>
    total: 0 data

     
    LOGIN: Username/Email: Password:
    Jika Anda memiliki masalah, silakan hubungi salah satu admin kami yang online:
    mi_anokhi Kirim pesan oyr79 Kirim pesan varry Kirim pesan