Belum lama tangis musibah tsunami mengering, tregedi
kemanusiaan, seperti tak mau berhenti, silih berganti menghantam negeri ini.
Berbagai tindak kriminal, penyakit, hingga bencana alam mewarnai langkah awal
kita di tahun 2006 ini. Padahal, pada saat yang sama, kita sedang dituntut untuk
bekerja keras membangun kembali negeri ini dari keterpurukan ekonomi serta
perbaikan moral bangsa.
baca lanjutanHampir setiap hari, media massa begitu bersemangat
memberitakan tentang perampokan, kekerasan, penganiayaan, hingga pembunuhan
sadis. Sebuah laporan yang dirilis oleh Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan
Anak menyebutkan bahwa pada tahun 2005 terdapat 736 kasus kekerasan terhadap
anak, meningkat dari 441 kasus pada tahun 2004. Artinya, rata-rata dalam sehari
terdapat dua orang anak yang mendapatkan perlakuan tidak wajar. Data ini belum
termasuk yang tidak dilaporkan kepada Komnas Perlindungan Anak.
Banyaknya tindak kriminal di negeri kita, membuat
stasiun-stasiun televisi tidak pernah kehabisan berita dalam setiap segmen
berita kriminalnya. Ditambah lagi dengan aksi-aksi terorisme, mulai dari ancaman
via surat kaleng dan telepon hingga bom bunuh diri.
Sementara itu, lepra, polio, kaki gajah, busung lapar, demam
berdarah, anthrax, hingga flu burung ikut-ikutan meneror negeri ini.
Penyakit-penyakit yang tak pandang bulu ini seperti tak ingin kalah dengan
gosip-gosip kawin-cerai kalangan selebritis dalam deretan pemberitaan media
massa.
Tidak hanya itu, alam pun enggan bersahabat dengan kita.
Hujan deras berkepanjangan yang disertai angin kencang memporak-porandakan rumah
warga di berbagai wilayah di negeri ini. Di tempat lain, banjir bandang dan
tanah longsor mengubur puluhan warga di rumahnya sendiri. Ada apa dengan negeri
ini?
Negeri yang kaya akan hasil alam ini betul-betul dalam
keadaan tidak harmonis. Tidak harmonis antara pemerintah dengan rakyat, alam
dengan rakyat, bahkan rakyat dengan rakyat. Lihat saja betapa “tega”-nya warga
menghancurkan kantor pemerintahan yang dibangun dari pajaknya sendiri! Lihat
juga betapa “buas”-nya mahasiswa yang “intelek” itu menghancurkan kampus tempat
ia menimba ilmu!
Lihatlah... kelompok-kelompok masyarakat yang dengan
“ganas”-nya menutup paksa bahkan menghancurkan tempat-tempat peribadatan
masyarakat lain hanya karena label “sesat” yang ditempelkan oleh para ulamanya!
Lihatlah... para pengusaha kecil dengan “santai”-nya menjual bakso, yang daging
sapinya telah diganti dengan daging tikus! Ada juga yang menjual sirup yang
terbuat dari air tanah yang tidak dimasak, bahkan tahu, ikan, dan bangkai ayam
disegarkan dengan formalin, zat kimia yang selama ini digunakan untuk
mengawetkan mayat.
Mungkinkah berbagai malapetaka yang dihadapi negeri ini
adalah bentuk murka YHWH ataukah kita memang sedang menciptakan kuburan massal
di negeri ini? Apakah YHWH sedang menguji negeri ini ataukah kita sendiri yang
sedang melakukan “bunuh diri” massal?
Jika “tangan YHWH tidak kurang panjang untuk menyelamatkan,
dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar” (Yes. 59:1), mengapakah
derita bangsa ini seperti tak kunjung usai? [JRI]
ke atas